FAKULTAS Hukum Universitas Sebelas Maret mengupas buku Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan yang ditulis tokoh bangsa Ahmad Syafii Maarif, Selasa (16/6). Ratusan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta menghadiri acara tersebut.
Dalam acara yang dipandu sutradara Garin Nugroho itu, Buya Syafii Maarif memaparkan kegelisahannya terhadap bangsa, terutama umat Islam. "Meski umat Islam menjadi mayoritas, kualitasnya jauh tertinggal," tuturnya.
Ia pun menyesalkan masih adanya gerakan ekstrem atau radikal dari sekelompok masyarakat yang terus mempersoalkan Islam sebagai ideologi negara dengan paksaan, berdasarkan tafsiran sebuah ayat, yang diimplementasikan dengan cara-cara tidak terpuji. Padahal, sebagai mayoritas, pemeluk Islam tidak perlu sibuk lagi mempersoalkan hubungan Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan.
Sebab, kata dia, ketiga konsep itu harus ditempatkan dalam satu napas sehingga Islam di Indonesia menjadi Islam yang ramah, terbuka, inklusif, dan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa dan negara. "Kita bersama seharusnya menjadikan Islam yang lebih bersahabat dengan lingkungan kultur, subkultur, dan agama di negeri ini yang beragam," ujar sang guru bangsa.
Dengan diselingi tiga lagu yang dibawakan Endah Laras, yakni Serumpun Padi, Pancasila Rumah Kita, dan lagu Pring Gepuk, suasana diskusi menjadi sangat dinamis. (WJ/N-3)