MUNCULNYA Tol Cipali menyisakan persoalan ekonomi sosial bagi masyarakat sekitar pantura. Terutama para pedagang makanan dan oleh-oleh serta pemilik restoran yang selama ini diuntungkan selama Ramadan dan Idul Fitri.
Saat arus mudik di jalur pantura padat, banyak usaha di sektor kuliner yang kebanjiran pembeli. Namun, munculnya Tol Cipali yang mampu mempersingkat perjalanan dari Purwakarta hingga Cirebon hanya sekitar 1,5 jam dikhawatirkan akan mengancam usaha kecil yang telah dirintis masyarakat sekitar pantura bertahun-tahun lamanya.
"Bisa-bisa rumah makan ini sepi nantinya. Tidak ada yang lewat ke jalur pantura," kata Nunung, pemilik rumah makan di Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Rumah makan milik Nunung itu sudah beroperasi belasan tahun dan memiliki puluhan karyawan yang sudah lama bekerja. "Mereka (karyawan) sangat bergantung dengan rumah makan ini," kata Nunung.
Ia khawatir apabila para pemudik nantinya menggunakan jalur Tol Cipali, rumah makan miliknya bisa rugi karena pemasukan yang berkurang. "Padahal, momen arus mudik dan balik Lebaran setiap tahunnya sangat ditunggu semua pengelola rumah makan di jalur pantura Indramayu, karena di saat arus mudik dan balik, pengelola rumah makan bisa meraih keuntungan cukup lumayan. Jumlah karyawan pun bisa ditambah. Jadi, semua ikut menikmati," ungkapnya.
Dia pun berharap bisa berjualan di rest area yang ada di wilayah Indramayu. Saat ini, ada dua rest area yang ada di wilayah Indramayu yang sedang dalam tahap pembangunan. "Sebenarnya saya ingin sekali berjualan di sana, tapi saya mau kontak siapa? Kalau bisa buka usaha di sana, karyawan saya bisa diselamatkan," tambahnya.
Ijah, pemilik rumah makan di daerah Kertasemaya, Indramayu, membenarkan selama Ramadan dan Lebaran merupakan masa panen bagi para pengelola rumah makan di pantura. Bahkan, keuntungan yang mereka dapat bisa mencapai lebih dari 200%. "Kalau pemudik lewat Tol Cipali, saya yakin rumah makan saya ini akan merugi," tegasnya. Kekhawatiran para pemilik restoran di sekiktar Cirebon dan Indramayu juga dirasakan para pemilik restoran di sekitar Pejagan, Brebes, Jawa Tengah.
Abah, pengusaha telur asin oleh-oleh khas Brebes sudah mendengar rencana pembangunan Tol Pejagan yang akan selesai enam bulan mendatang. "Saat ini, kami masih bisa menikmati keuntungan dari pemudik sebelum Tol Pejagan selesai, tapi kalau benar-benar sudah beroperasi, kami berharap pengelola tol bisa merekrut kami untuk bisa berjualan di sekitar rest area tol," harap Abah.
Kondisi para pedagang itu juga mendapat perhatian Wali Kota Tegal, Siti Masitha Soeparno. Ia meminta agar para pedagang mulai meningkatkan usaha dari berdagang menjadi produsen. Adapun Wali Kota Pekalongan, Basyir Ahmad, mulai mengantisipasi matinya para pedagang batik Pekalongan.
Beroperasinya Tol Cipali diprediksi akan mengurangi jumlah kendaraan yang melintas di pantura hingga 50%. Kasi Pariwisata, Dinas Pemuda dan Olahraga, Budaya dan Pariwisata Kabupaten Indramayu, Syarifudin Sagita membenarkan akan ada dampak besar beroperasinya Tol Cipali.
"Jumlah rumah makan yang ada di pantura Indramayu sekitar 50 hingga 60 rumah makan. Adanya tol itu akan berdampak seperti yang terjadi di Purwakarta dan Cianjur," jelasnya. Hingga saat ini, hanya ada satu rumah makan yang sudah pindah mendekati tol, tepatnya di pintu keluar Tol Cikawung, Terisi.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Kabupaten Indramayu, Karno Dwiatmaja, menambahkan dampak tol Cipali terhadap pengusaha hotel dan rumah makan di Kabupaten Indramayu pasti ada. " Yang pasti akan stagnan," katanya.
Saat ini, lanjut Karno, pengusaha tidak memiliki pilihan lain karena membuka usaha di rest area susah dan biayanya besar. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Kabupaten Majalengka, Agus Permana, juga berharap UKM-UKM dari Kabupaten Majalengka bisa masuk rest area.
Keresahan para pelaku usaha mikro itu disambut optimistis Ketua Apindo Kabupaten Cirebon, Edi Baredi. "Cirebon itu magnetnya banyak. Mulai batik, makanan khas Cirebon, hingga tempat-tempat pariwisata. Saya yakin masih banyak orang yang mencari empal gentong dan empal asem, docang, sega jamblang dan semua yang menjadi ciri khas Cirebon," kata Edi. (UL/AS/N-4)