Ramai-Ramai Saweran Beli Peti Mati untuk Angeline

Arnold Dhae
17/6/2015 00:00
Ramai-Ramai Saweran Beli Peti Mati untuk Angeline
(Warga menangis sambil memeluk peti jenazah Angeline sesaat sebelum dipindahkan dari RS Sanglah Denpasar--ANTARA/Wira Suryantala )
SETELAH tertunda beberapa jam, jenazah Angeline akhirnya diberangkatkan ke Banyuwangi, Jawa Timur, tempat kelahiran ibu kandungnya, Hamida. Rencana semula, jenazah Angeline akan diberangkatkan ke Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, kemarin, pukul 09.00 Wita. Namun, pemberangkatan jenazah tertunda beberapa jam. Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang ikut menjemput jenazah Angeline di RSUP Sanglah harus gigit jari karena harus menunggu cukup lama.

Jasad Angeline baru dikeluarkan dari kamar jenazah sekitar pukul 15.45 Wita. Saat jenazah dikeluarkan, para pengantar melantunkan salawat dan doa. Ada beberapa penganut agama lain seperti Hindu dan Kristen mendoakan sesuai kepercayaan masing-masing.

Beberapa rombongan dari SD Negeri 12 Sanur, tempat Angeline bersekolah, ikut mengantar. Tidak ada upacara serah terima secara formal. Diduga, seremoni itu sudah dilakukan di dalam ruangan bersama penyidik dan keluarga. Jasad Angeline dibawa menggunakan ambulans milik Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Dewata Bali dan dikawal Patwal menuju ke Banyuwangi.

Keterlambatan jenazah Angeline keluar dari kamar jenazah disebabkan peti mati, plastik, dan spons belum siap. Seorang anggota keluarga besar Ikawangi Dewata sempat berteriak meminta uang kepada para anggota Ikawangi Dewata untuk membeli peti mati. "Ada uang Rp1,4 juta tidak? Untuk membayar peti mati," ujar pria tersebut di depan kamar jenazah.

Mereka akhirnya saweran untuk membayar peti mati. Padahal, sebelumnya sejumlah pejabat mulai menteri, gubernur, wali kota hingga Pemkab Banyuwangi mengaku akan mengurus segala kebutuhan Angeline.

Ibu kandung Angeline, Hamida, yang masih menjalani pemeriksaan mendapatkan dispensasi pulang ke Banyuwangi untuk memakamkan anaknya.

Kasus Angeline mendapat empati dari para awak media di Bali. Puluhan wartawan dari berbagai media memberikan uang duka kepada Hamida senilai Rp18 juta. Hingga kemarin, polisi memintai keterangan tukang sayur langganan Margaret.(OL-N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya