LRT Sumsel Dipastikan Rampung Sebelum Asian Games 2018

Dwi Apriani
12/5/2016 19:59
LRT Sumsel Dipastikan Rampung Sebelum Asian Games 2018
(ANTARA)

SEBELUM pelaksanaan Asian Games (AG) 2018 mendatang, light rail transit (LRT) di Sumatra Selatan dipastikan selesai.

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Provinsi Sumatra Selatan Nasrun Umar mengungkapkan, saat ini untuk pengerjaan kontruksi LRT tersebut sudah masuk 6,04% dan diprediksi pada 2016 akhir sudah mencapai 35%.

"Sesuai target kita, LRT akan selesai pada 2018 mendatang. Sekarang progresnya terus berjalan," ucapnya di Palembang, Kamis (12/5).

Nasrun menyebutkan, LRT sepanjang 23 kilometer itu memiliki 13 stasiun dan satu dipo, yakni Stasiun Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Stasiun Asrama Haji, Stasiun RSU Provinsi, Stasiun Telkom, Stasiun PS Mall, Stasiun Kantor Dishubkominfo Sumsel, Stasiun Simpang Polda, Stasiun Demang Lebar Daun, Stasiun Pasar Cinde, Stasiun Jembatan Ampera, Stasiun Polresta Palembang, Stasiun Jakabaring, Stasiun OPI Mall, dan Dipo Jakabaring.

"Sekarang masih dalam pembangunan kerangka bawah. PT Waskita Karya selaku kontraktor pembangun proyek akan berupaya keras mengejar target penyelesaian pengerjaan LRT ini," ungkap dia.

Pengerjaan LRT itu sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 116 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Kereta Api Ringan, tertuang semua rencana progres dan pembangunan LRT di Palembang. Diketahui untuk pembangunan LRT itu dialokasikan dari kontrak multiyears 2016-2018 dari APBN sebesar Rp11,4 triliun guna kontruksi dan supervisi.

Rinciannya, sebanyak Rp7,2 triliun digunakan untuk pembangunan sarana prasana, Rp1,2 untuk pengadaan rel, dan sisa Rp3 triliun untuk kelistrikan, sinyalisasi, dan kebutuhan operasional lainnya.

Nasrun menyebutkan, akan ada dua lokomotif yang masing-masing membawa beberapa gerbong. Satu lokomotif dalam satu kali jalan mampu mengangkut 800-1.000 penumpang dengan waktu tempuh maksimal dari Bandara SMB II Palembang ke Jakabaring sekitar 45 menit.

"Dengan adanya LRT, kita optimistis akan mengurangi kemacetan di Palembang. Sebab, berdasarkan prediksi jika tidak ada upaya mengurai kemacetan, maka Palembang akan alami deadlock pada 2019 nanti," beber Nasrun.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Zona 2 LRT Waskita Karya Okta Mulia mengatakan, tidak dimungkiri akibat dari pembangunan LRT itu terjadi kemacetan dan kerusakan jalan. Karena itu, pihaknya berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menyiapkan beragam jalan alternatif untuk pengendara.

"Jalan yang rusak adalah tanggung jawab kami. Sekarang jalan yang rusak karena LRT sudah kita benahi perlahan. Memang belum permanen, nanti kalau sudah selesai pengerjaan kerangka bawah maka akan kita perbaiki secara permanen," ungkap dia.

Kondisi cuaca yang kurang bersahabat, yakni hujan, yang masih tinggi belakangan ini juga tidak menjadi kendala berarti. Memang diakuinya sejumlah proyek kerangka bawah terkadang dipenuhi oleh air, tapi pihaknya sudah memiliki cara mengatasinya. Yakni lubang yang terpenuhi air dipompa dan dibuang melalui saluran air yang ada di pinggir jalan.

"Lubang di setiap tiang pancang yang kita buat memang kerap terisi air, tapi teknisnya kita sedot air dengan pompa dan kita buang ke saluran air, jadi tidak membahayakan pengguna jalan," tandasnya. (DW/Ol-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya