Sebulan Terakhir, Korban Pelecehan Seksual di Sukabumi 7 Orang

Benny Bastiandy
12/5/2016 18:45
Sebulan Terakhir, Korban Pelecehan Seksual di Sukabumi 7 Orang
(Ilustrasi)

DALAM kurun satu bulan antara April hingga pertengahan Mei 2016 ini, setidaknya terdapat tujuh korban pelecehan seksual di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Korbannya rata-rata masih berusia di bawah umur antara 11-14 tahun.

"Dari data yang kami terima di lapangan, tujuh korban pelecehan seksual itu berada di Kecamatan Parungkuda sebanyak empat orang dan di Kecamatan Sukabumi, Kecamatan Palabuharatu, serta Kecamatan Purabaya masing-masing satu orang," kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Sukabumi, Dian Yulianto, Kamis (12/5).

Kondisi itu menegaskan jika kasus pelecehan seksual terhadap anak di Kabupaten Sukabumi relatif masih tinggi. Pelakunya diketahui merupakan orang dekat yang mengenal korban. "Misalnya seperti di Kecamatan Palabuhanratu. Pelaku pelecehan seksual adalah ayah kandungnya sendiri," tegas Dian.

Fenomena sosial tersebut tentu harus menjadi perhatian semua pihak, terutama pemerintah. Sayangnya, lanjut Dian, upaya preventif dari Pemkab Sukabumi belum terlihat nyata menangani permasalahan itu. "Memang ironis, orang terdekat yang mestinya melindungi malahan menjadi pelaku pelecehan seksual," ujarnya.

KPAID Kabupaten Sukabumi sebagai lembaga yang serius menangani masalah itu, kata Dian, akan terus mengawal proses hukum terhadap para pelaku pelecehan seksual. Untuk membantu memulihkan psikologis korban, KPAID masih dibantu orang lain.

"Kita belum memiliki psikolog. Idealnya kita sudah harus memiliki psikolog untuk membantu pemulihan psikis korban pelecehan seksual," tandasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Sukabumi, Elis Nurbaeti, mengatakan maraknya orang terdekat yang menjadi pelaku kekerasan seksual akibat lemahnya pengawasan.

Apalagi, bagi orangtua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, menyebabkan komunikasi yang kurang dengan anak sehingga menjadi korban.

"Menjadi sebuah fenomena ketika orangtua sibuk dengan pekerjaan, mereka menitipkan anak mereka ke kerabat atau ke orang lain. Ini menyebabkan pengawasan jadi sangat minim. Jika suatu saat terjadi sesuatu kepada anak, mereka memilih menutup diri, tidak mau membicarakan apa yang dialaminya," tandas Elis. (BB/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya