SUASANA di Desa Ajung, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan (Kalsel), cukup ramai siang itu. Sejumlah ibu dari suku Dayak Pitap terlihat duduk sambil bercengkerama dengan anak-anak. Sementara itu, kaum pria berkumpul di balai adat desa, untuk mempersiapkan acara aruh atau pesta panen.
Tahun ini hasil panen berupa padi gunung atau dikenal dengan padi sibuyung cukup baik. Pesta panen disepakati berlangsung sampai satu minggu.
"Hasil panen tahun ini cukup melimpah, sehingga acara pesta panen akan digelar meriah dengan melibatkan warga dari balai-balai adat di sekitar," kata Junal, Kepala Desa (Pembakal) Desa Ajung, Kamis (7/5).
Balai adat Ajung merupakan balai adat induk yang membawahkan empat balai adat lain di sekitar desa tersebut. Desa Ajung yang berasal dari kata paling ujung merupakan salah satu desa terpencil, berada di kaki Pegunungan Meratus.
Sebagian besar warga suku Dayak hidup bertani dengan sistem ladang berpindah. Hingga 2007, Kementerian Sosial membangun 100 rumah bagi warga dalam program Komunitas Adat Terpencil (KAT). Sebelumnya, Desa Ajung hanya dihuni beberapa keluarga. Setelah banyak rumah layak di wilayah itu, desa itu menjadi berkembang.
Meskipun pemerintah telah menyediakan rumah dan jatah hidup, warga tidak bisa meninggalkan budaya bertani dengan ladang berpindah. Mayoritas penduduk desa yang berprofesi sebagai petani ladang dan sebagian bertani karet di kaki Pegunungan Meratus. Mereka baru akan turun ke desa atau pulang ke rumah setiap akhir pekan atau saat ada upacara adat. Rumah-rumah warga hanya dihuni anak-anak. Orangtua hanya singgah ke rumah untuk membawa barang-barang untuk kebutuhan hidup. Saat ini, Desa Ajung dihuni 158 keluarga atau sekitar 500 jiwa.
Fasilitas listrik mengandalkan diesel dengan sistem iuran. Sementara itu, fasilitas listrik tenaga surya bantuan pemerintah sudah banyak yang rusak. Bupati Balangan Seffek Effendi mengakui masih ada sejumlah desa masuk kategori desa terpencil. "Desa Ajung sebenarnya dekat dari kota. Masih ada desa yang masuk ke hutan dan harus ditempuh dengan berjalan kaki puluhan jam dari desa terakhir," ujarnya.
Kepala Seksi Sosial, Dinas Kesejahteraan Sosial Kalsel Bahri menambahkan program KAT sudah berjalan sejak 1950-an. "Sejauh ini pemerintah telah membangun sedikitnya 150 KAT di berbagai wilayah di Kalsel. Program ini untuk membangun permukiman layak dan memudahkan pelayanan bagi warga terpencil. Namun, kami akui banyak yang kurang berhasil, karena sulit menghapus budaya warga memilih hidup berpindah. Namun, yang berhasil juga ada seperti Desa Ujung," terangnya. (N-4)