Menetapkan Kandidat Paskibraka Terbaik

MI/DINNY MUTIAH
16/6/2015 00:00
Menetapkan Kandidat Paskibraka Terbaik
(Dok kemenpora)
WAKTU menunjukkan pukul 15.00 WIB pada Kamis (12/6) itu. 122 orang berpakaian seragam SMA dengan nomor dada berwarna merah tampak asyik bercengkerama di depan ruang auditorium Rumah Sakit Olahraga Nasional (RSON). Suara gaduh mereka akhirnya dapat diredam setelah seorang kakak pembina pasukan pengibar bendera pusaka
(paskibraka) bersuara.

Dua puluh empat orang yang berada pada nomor urut pertama diminta memisahkan diri dari rombongan. Mereka selanjutnya diperintahkan berbaris dalam enam banjar dan berdiri dalam sikap istirahat di tempat. Sikap tersebut tidak berubah hingga perintah masuk diucapkan oleh salah seorang anggota tim penilai calon paskibraka nasional 2015.

Dalam gerakan seragam, mereka berjalan memasuki ruangan dan menempati posisi yang ditunjukkan. Para anggota tim penilai yang telah menunggu di dalam ruangan kemudian beranjak mendekati masing-masing kandidat. Satu per satu dari mereka menanyakan beberapa hal kepada calon paskibraka nasional itu sambil membaca kertas yang berisi nilai ujian para peserta, hasil tes seleksi dari masing-masing tim seleksi (psikotes, parade, peraturan baris-berbaris, kesamaptaan/
jasmani, wawancara, kesenian, kesehatan dan kebugaran, serta pengetahuan umum).

Sebagian anggota tim meminta kandidat menunjukkan kemampuan baris berbaris. Sebagian lainnya meminta para peserta berdiri dalam sikap sempurna. Postur mereka diteliti kembali satu persatu untuk memastikan hasil penilaian sebelumnya. Proses penilaian itu hanya berlangsung selama lima sampai sepuluh menit saja dan para peserta diminta untuk keluar dari ruangan. Setelah pintu tertutup, para anggota tim penilai menggelar rapat pleno.

Proses diskusi yang berlangsung tertutup itu memang tidak terdengar ke luar. Namun, perdebatan bukannya tanpa dinamika. Mereka beberapa kali memanggil kembali sejumlah  peserta yang telah dites tadi untuk menghadap hingga keputusan akhir terhadap mereka ditetapkan. Rangkaian proses itu berlangsung hingga lima gelombang. "Soalnya, beberapa hasil penilaian dari sejumlah peserta tadi perbedaannya tidak terlalu jauh. Jadi, kami panggil kembali tadi untuk lebih memastikan hasil yang akan kami putuskan bersama," terang Sekretaris Tim Penilai Calon Paskibraka Nasional 2015 Endang Parahyanti.

Babak penetapan tahap akhir (pantuhir) akhirnya meluluskan 61 nama dari 122 peserta. Masih ada tujuh posisi yang belum terisi karena kandidat sebelumnya yang dikirim provinsi gugur pada seleksi administratif. Untuk itu,panitia seleksi paskibraka nasional memberi waktu kepada daerah untuk mengirimkan namanama
baru yang akan mengikuti seleksi susulan.

Keterwakilan
Berdasarkan Permenpora Nomor 0065/2015 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Paskibraka, proses seleksi diselenggarakan untuk memilih satu pasang anggota paskibraka dan/atau yang terbaik untuk bertugas sekaligus menjadi anggota paskibraka nasional dari tiap-tiap provinsi. Aturan tersebut bermakna bahwa proses seleksi harus mengedepankan keterwakilan tanpa mengabaikan kualitas kandidat terpilih.

Untuk itu, pengambilan keputusan akhir dilakukan secara hati-hati. "Mereka yang mendapat nilai tinggi dari ujian kemarin belum tentu yang terpilih. Ada pertimbangan lain, seperti kesehatan, yang sifatnya absolut sehingga tidak boleh ada pada calon paskibraka nasional. Misalnya buta warna. Kalau peserta itu memiliki buta warna, otomatis dia tidak lulus," terang Endang.

Begitu pula dengan kondisi psikologis peserta. Dengan bobot penilaian mencapai 20%, hasil pengujian menunjukkan jika kondisi psikologis rata-rata peserta belum ada yang mencapai kriteria yang diharapkan. Karena itu, mereka yang terpilih nanti perlu terus diberikan penguatan mental agar mampu melaksanakan tugas pengibaran bendera dengan baik.

"Stres itu memang dihadapi mereka sehari-hari. Tapi, bagaimana menanggulangi stres supaya bisa menghasilkan sesuatu yang positif itu yang penting. Itu yang perlu menjadi perhatian ke depan," tegasnya. Partisipasi daerah Pendapat lain dikemukakan anggota tim penilai paskibraka nasional 2015 L Saydiman Marto. Perwakilan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) ini mengatakan hasil seleksi yang diputuskan sejauh ini cukup memuaskan.

Walau begitu, ia berharap kualitas calon paskibraka nasional mendatang akan terus mengalami peningkatan. Hal itu bisa terwujud jika pemerintah daerah meningkatkan perhatian pada pembinaan kepemudaan di daerahnya masing-masing. Bagaimanapun, pembinaan kepemudaan penting artinya dalam penyiapan generasi penerus bangsa. Untuk itu, kami mempunyai tanggung jawab moril untuk mengupayakan agar hal tersebut masuk ke dalam bujet APBD, tukasnya. (Din/S-25)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya