EKA Aprianto Zulkarnain, 16, mengaku tidak pernah terpikir untuk menjadi anggota pasukan pengibar bendera pusaka (paskibraka). Cita-cita masa kecil siswa kelas X SMAN 3 Batam itu justru ingin menjadi pemain bola. Namun, pikirannya berubah saat televisi menayangkan upacara pengibaran bendera di Istana Merdeka. "Kejadiannya waktu saya kelas IX. Saya lihat gagah ya mereka yang menjadi paskibraka.
Sejak itu, saya termotivasi," cetusnya kepada Media Indonesia ketika ditemui di Wisma Soegondo, Cibubur, pekan lalu. Niatnya itu kemudian diwujudkannya begitu masuk SMA. Ia mengikuti proses seleksi sejak di tingkat sekolah hingga akhirnya menembus tingkat provinsi. Peserta seleksi di tingkat provinsi saat itu mencapai 69 orang yang berasal dari 7 kabupaten/kota Provinsi Kepulauan Riau.
"Saya sempat bertanya pada ibu saya saat itu ketika lulus seleksi di sekolah. Apa saya diizinkan untuk terus melanjutkan karena kan paskibraka itu identik dengan didikan keras. Ibu saya bilang lanjutkan saja karena mungkin itu rezeki saya," celoteh anak sulung dari tiga bersaudara ini. Berbekal izin itulah, ia memantapkan diri menghadapi ujian di tingkat provinsi.
Pasalnya, materi ujian yang dihadapi di tingkat provinsi lebih banyak dan kompleks. Misalnya saja saat menghadapi ujian pengetahuan umum. Jika di tingkat nasional hanya ditanyai seputar pengetahuan paskibraka, pendidikan kewarganegaraan, dan pancasila, ujian di tingkat provinsi bahkan menyertakan materi Bahasa Inggris dan Matematika. "Mungkin kakak-kakak di provinsi sengaja menekan kami lebih keras supaya ketika di tingkat nasional udah enggak kaget," sahutnya.
Pengalaman yang didapatnya itu menjadikannya lebih santai saat menghadapi seleksi di tingkat nasional. Ia mengaku atmosfer persaingan antarpeserta justru tidak terlalu terasa dibandingkan semangat menjalin pertemanan antarmereka. Walau begitu, ia mengaku tetap khawatir dengan hasil akhir nanti. "Deg-degan pasti iya. Ini kayak pertaruhan nyawa. Soalnya enggak semua bisa masuk paskibraka. Tapi kalau bisa, harapan kami keempatempatnya dari provinsi kami ini bisa masuk semuanya," ujarnya.
Pada akhirnya, harapannya hanya tinggal harapan. Bagaimanapun, kuota yang tersedia untuk masing-masing provinsi hanya bisa meluluskan sepasang saja. Itu berarti kesempatan Eka untuk lulus ke tingkat nasional sama besarnya dengan bertugas di tingkat provinsi nantinya. “Yang lulus akan bertugas di Istana Merdeka, sedangkan yang tidak lulus akan bertugas di provinsi. Jadi, tidak ada istilah gagal.
Memperhatikan psikologi peserta seleksi calon Paskibraka Nasional, pihak Kemenpora menyadari jika kesedihan dan kekecewaan tetap akan timbul pada mereka yang tidak berhasil menjadi paskibraka tingkat nasional. Karena itu, pihak Kemenpora menyiapkan tim motivator untuk mengubah energi negatif ke arah yang positif. Pengelolaan stres akibat sedih, kecewa, dan rasa malu secara tepat itu penting diajarkan sebagai modal untuk kesuksesan mereka di masa datang.
"Stres itu enggak bisa dihindari. Tapi, toleransi menghadapi stres ini perlu diajarkan ke mereka. Dengan begitu, saat mereka kembali ke tempat asalnya, yang diajarkan sekarang mejadi pelajaran bagaimana coping stres nantinya ke arah yang lebih positif, jadi langkah Kemenpora mendatangkan motivator yang terdiri dari psikolog untuk memotivasi peserta calon Paskibra Nasional sebelum hasil seleksi diumumkan oleh Tim Penilai, sudah tepat," tukas Sekretaris Tim Penilai Seleksi Paskibraka Nasional 2015 Endang Parahyanti. (Din/S-25)