Zona Megathrust Mentawai Kembali Melepaskan Gempa

Yose Hendra
08/5/2016 20:41
Zona Megathrust Mentawai Kembali Melepaskan Gempa
(Istimewa)

GEMPA berkekuatan 4.5 skala richter (SR) guncang Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat (Sumbar), Minggu (8/5). Episentrumnya berada di segmen Siberut dimana diprediksi para ahli merupakan zona megathrust dengan potensi gempa 8.9 SR.

"Iya. Ini di megathrust. Sebagai akibat subduksi," ujar Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Silaing Bawah-Padang Panjang BMKG Rahmat Triyono.


Berdasarkan data BMKG, gempa terjadi pukul 01.27 WIB dengan lokasi 78 kilometer Tenggara Kepulauan Mentawai. Kedalaman gempa berkisar 49 kilometer. Rahmat mengatakan, gempa bukan karena aktivitas sesar Mentawai. Kendati lokasinya dekat sesar Mentawai, jelasnya, melihat kedalamannya bisa disimpulkan karena subduksi lempeng Indo-Australia ke lempeng Eurasia. "Ini di segmen Siberut," tukasnya.

Mentawai punya sejarah panjang dihantam gempa. Terakhir, 25 Oktober 2010, gempa berkekuatan 7.2 SR memicu terjadinya tsunami. Ratusan orang meninggal akibat hantaman tsunami.

Sementara penelitian intensif yang dilakukan para ahli gempa seperti Kerry Sieh dan Danny Hilman Natawidjaja mengemukakan, segmen Siberut
menyimpan megathrust dengan potensi gempa besar dalam beberapa tahun ke depan.

Ancaman gempa megathrust di segmen Mentawai tak terlepas dari sejarah panjang kegempaan yang terekam di Mentawai sejak tahun 1700 hingga 2011. Berdasarkan data LIPI, gempa pernah terjadi di Siberut pada 1797 dengan kekuatan 8,4 SR. Lalu pada 1833 gempa di Pagai dengan kekuatan 9 SR.

Pada 1935, gempa antara Siberut dan Nias dengan kekuatan 7,7 SR. Selanjutnya 2007, gempa di antara perairan Sipora dan Painan dengan
kekuatan 7,7 SR, dan 2010, gempa diikuti tsunami di Pagai berkekuatan 7,2 SR.

Danny Hilman suatu kesempatan mengatakan, gempa-gempa besar di segmen Mentawai pada abad 17 dan 18 akan berulang tiap 200 tahun hingga 300 tahun. Dengan demikian, megathrust ancaman serius bagi Mentawai. Defenisi megathrust adalah bagian dangkal atau patahan yang landai (di atas 60 km) dari batas antara lempeng yang menunjam (lempeng samudera di Hindia) dan lempeng di atasnya (lempeng benua). Patahan ini jika bertumbukan bisa mengeluarkan energi 8.9 SR dan berpotensi tsunami.

Sementara Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatra Barat Ade Edward menegaskan tsunami tidak akan terjadi jika pusat gempa bukan di zona megathrust. "Yang bisa menimbulkan tsunami itu jika gempa berpusat di area megathrust. Yaitu di sepanjang pulau Nias, Siberut, Sipora, Sikakap, Batu dan Enggano sampai pulau Jawa," ujarnya. (ol-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya