Presiden Minta Santri Memenangi Kompetisi MEA

Tosiani
04/5/2016 21:42
Presiden Minta Santri Memenangi Kompetisi MEA
(ANTARA)

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) meminta para santri untuk mempersiapkan diri sejak dini guna menghadapi era persaingan bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Hal itu disampaikan Jokowi saat berbicara di hadapan ribuan santri dari Pondok Pesantren (Ponpes) Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu (4/5) malam.

Kehadiran Presiden di ponpes itu untuk menghadiri pengajian dalam rangka peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Jokowi mengatakan, saat ini sudah memasuki era kompetisi atau persaingan. Persaingan, kata dia, sudah bukan antarindividu, antarkota, maupun antarprovinsi, melainkan antarnegara.

Mulai awal Januari 2016 lalu sudah dibuka MEA. Konsekuensinya, orang Malaysia, Singapura, Brunei boleh ke Indonesia untuk bekerja, dan sebaliknya orang Indonesia juga boleh ke sana. Dengan demikian, ASEAN yang terdiri dari 11 negara sudah tidak ada batasnya.

"Harus kita hadapi tantangan itu karena sudah ditandatangani 10 tahun lalu. Mau tidak mau harus siap. Tadi dari saat berbincang dengan Gus Yusuf, pengasuh Ponpes API, santri di sini dipersiapkan jadi enterpreneur, pengusaha, petani, dan profesi lain secara profesional," kata Jokowi .

Profesionalisme, menurut Presiden, sangat penting untuk menghadapi tantangan MEA. Saat ini persaingan bebas baru diikuti 11 negara yang tergabung dalam ASEAN. Ke depan, mungkin akan lebih luas lagi persaingan antardunia. Jokowi melihat saat ini sudah terbentuk beberapa blok, seperti Blok Tiongkok dan lainnya. Di masa yang akan datang kemungkinan blok-blok itu juga akan membuka diri sehingga terjadi persaingan bebas dunia.

"Santri di sini terlihat optimis menatap masa depan. Saya pesan karena persaingan itu, kita harus belajar bagaimana memenangi sebuah persaingan dengan menambah ilmu, kerja keras, belajar, dan pengalaman. Geluti profesi dengan sungguh-sungguh tanpa ada paksaan, sehingga bisa bekerja secara ikhlas dan senang," ujar Presiden.

Ia juga meminta para santri menyisihkan waktu lebih banyak untuk belajar daripada orang pada umumnya. Jika tidak, para santri akan kalah dalam persaingan. Santri akan menjadi aset bangsa Indonesia, sehingga bisa memenangi kompetisi. Dalam kesempatan itu, Presiden juga membagikan sejumlah sepeda pada para santri yang bisa menjawab pertanyaannya.

Pengasuh Ponpes API KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) mengatakan, saat ini jumlah santri di ponpesnya mencapai 4.800 putra dan 2.500 putri. Adapun santri yang hanya bersekolah di Ponpes sekitar 3.000 orang.

Dalam kesempatan itu, pria yang akrab dipanggil Gus Yusuf ini meminta pemerintah memberikan kartu Indonesia sehat (KIS) untuk para santri. Ia juga meminta Presiden membantu membuatkan klinik untuk pesantren karena jumlah santri mencapai 10.000-an orang.

"Keberadaan klinik sangat penting agar para santri tetap sehat. Kami juga berterima kasih karena pemerintah telah menetapkan 22 Oktober menjadi hari santri nasional," ujar dia. (TS/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya