Menaklukkan Alam dengan si Naga

Kristiadi/Alexander P Taum
03/5/2016 09:56
Menaklukkan Alam dengan si Naga
(MI/Adi Kristian)

LUNAJAYA, 65, memandangi tanah lapang berisikan 300 pohon buah naga setinggi 2,5 meter di hadapannya. Peluh yang membanjiri dahi tak dihiraukannya.

Pemilik lahan buah naga di Kampung Situ Beet, Kelurahan Cipawitra, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, itu telanjur tenggelam dalam memori 8 tahun lalu.

Kebun buah naga di atas lahan seluas 3 hektare itu tadinya rusak karena aktivitas tambang galian C, yakni bahan yang tidak dianggap langsung memengaruhi hajat hidup orang banyak.

Namun, penghijauan pada bekas lahan pertambangan galian C ternyata cocok untuk bertani buah naga. Selain lahan berpasir, menanam buah naga membutuhkan sinar matahari langsung dan tidak bisa dilakukan di lahan lembap.

"Lahan lembap sangat berpengaruh, terutama dalam lambannya proses bunga dan buahnya," ujar Lunajaya, ketika ditemui beberapa waktu lalu.

Lunajaya menghitung sudah 16 kali ia memanen buah naga. Panen dilakukan dua kali dalam setahun, yakni di Juni dan Desember. Namun, hasil panen buah naga itu hanya diedarkan di lingkungan sekitar dan tidak dijual secara komersial, tapi diberikan secara cuma-cuma.

Herman, 55, seorang petani buah naga di lahan itu mengatakan masyarakat sangat antusias bisa merasakan buah naga yang ditanam, meski butuh waktu 6 bulan untuk sekali panen.

Tak hanya buahnya, masyarakat juga kesengsem dengan lokasi kebun si buah eksotis itu yang dianggap unik sebagai tempat berswafoto maupun pemotretan jelang pernikahan (prewedding).

Herman mengungkapkan pasangan calon pengantin yang berfoto di kebun itu setiap bulannya bisa 10 sampai 15 orang. "Pengambilan gambar bisa di pohon buah naga maupun pohon cemara di lokasi yang sama," ungkap Herman.

Ratusan kilometer dari Tasikmalaya, haru biru juga dikemukakan Petrus Pagar Besi Lemaking, warga Desa Waienga, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dahulu, lahan warisan orangtuanya seluas 1 hektare di batas kota itu tidak terjamah karena kering.

"Di 2010, awalnya saya bawa beberapa stek tanaman naga dari Malaysia. Saya hanya mau tanam untuk makan sendiri, karena saya kerja pelihara tanaman naga saat bekerja di Malaysia," ujar Petrus.

Tantangan alam saat mengelola lahan, cibiran warga, hingga pencurian buah pun melecutkan bara perjuangannya membudidayakan buah naga di lahan tandus itu.

Kini, lahan kritis tak dialiri air itu mampu memberikan penghasilan Rp5 juta per bulan dari bertanam buah naga. Dalam setahun, ayah 6 putra dan seorang putri itu memanen 3 kali.

Petrus pun berniat memanfaatkan lahan tidur lain yang bernasib sama, yaitu dikelola tidak untuk menjadi kaya, tapi buah karya menaklukan alam. (N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya