Tusuk Polisi Hingga Tewas, Turis Prancis Tewas Dibedil

MI
03/5/2016 08:41
Tusuk Polisi Hingga Tewas, Turis Prancis Tewas Dibedil
(Petugas melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) penangkapan Warga Negara Prancis, Amokrane Sabet di Jalan Pantai Berawa, Canggu, Badung, Bali, Senin (2/5)--ANTARA/Fikri Yusuf)

AMOKRANE Sabet, 46, dikenal karena sering berulah di Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Kemarin (2/5), mantan petarung mixed martial art atau gulat bebas itu tidak lagi bisa berbuat onar karena nyawanya melayang setelah lehernya diterjang peluru panas anggota Kepolisian Sektor Kuta Utara.

Sebelumnya, Brigadir Anak Agung Sugiarta, anggota Polsek Kuta Utara jadi korban kebringasannya. Amokrane menusuk korban yang akhirnya tewas saat dibawa ke rumah sakit.

"Penembakan terhadap Sabet sudah sesuai prosedur. Anggota sudah berupaya melakukan negosiasi saat hendak menjemput paksa dia, tetapi tidak berhasil," kata Kepala Kepolisian Daerah Bali Inspektur Jenderal Sugeng Priyanto. Warga negara Prancis itu malah menyerang petugas dengan menggunakan pisau.

Priyanto menuturkan, Amokrane sedianya hendak dijemput baik-baik di tempat tinggalnya di Banjar Tegal Gundul, Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Kabupaten Badung.

Penjemputan dilakukan Kepala Polsek Kuta Utara Komisaris I Wayan Arta Ariawan, Kepala Bidang Penindakan Imigrasi Bandara Ngurah Rai M Soleh, serta sejumlah anggota Brimob Polda Bali dan Dalmas Polda Bali.

"Izin tinggal Amokrane di Indonesia telah habis sejak September tahun lalu. Namun, ia tetap tinggal di Indonesia secara ilegal," lanjut Kapolda.

Tak hanya itu, Amokrane juga sering membuat onar. Ia beberapa kali dilaporkan makan di restoran dan tidak mau membayar. Pria berbadan kekar itu juga sering mengajak turis lain bertengkar.

Amokrane pernah dikabarkan mengajak perempuan turis yang tengah berlibur bersama suaminya untuk tidur dengannya. Sang suami pun berang, dan terjadilah keributan.

"Saat makan di restoran, dia sering tidak mau membayar. Saat ditagih, dia marah, menantang, dan mengancam akan membunuh," kata Sugeng.

Selain itu, pria dengan tubuh penuh tato tersebut juga sering mengancam membunuh warga dan mencaci maki dengan kata kasar tanpa alasan jelas.

Dia sudah tiga kali dipanggil Polsek Kuta Utara, tetapi tidak pernah mengindahkannya. Bahkan, surat panggilan terakhir ia sobek. Karena itu, polisi bermaksud melakukan jemput paksa.(OL/RS/N-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya