Ribuan Penari Meriahkan Peringatan Hari Tari Dunia di Surakarta

Widjajadi
29/4/2016 19:13
Ribuan Penari Meriahkan Peringatan Hari Tari Dunia di Surakarta
(MI/WIDJAJADI)

KOTA Solo, Jawa Tengah, kembali merayakan peringatan Hari Tari Dunia yang jatuh pada setiap 29 April, dengan berbagai pertunjukan tari yang digelar di kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dan sejumlah titik kota, seperti di depan Benteng Vastenberg.

Perayaan tersebut merupakan unjuk kebolehan di tahun ke sepuluh setiap memperingati World Dance Day (Hari Tari Dunia). Sedikitnya 6.000 penari yang datang dari 221 kelompok tari dari sejumlah kota di Tanah Air dan juga dari luar negeri, mempertontonkan kebolehan menari di tengah ribuan masyarakat yang menjejali kampus ISI dan juga kawasan Jenderal Sudirman yang dipergunakan sebagai pusat pertunjukan.

Dari ratusan jenis tari yang meramaikan Hari Tari Dunia ini, ada satu pertunjukan tari spektakuler lakon Dewa Ruci yang menjadi tontonan menakjubkan, karena dibawakan selama 24 jam nonstop, sejak Kamis (28/4) sore hingga Jumat (29/4) pukul 16.00 WIB.

Adalah Samsuri Sutarno SKar MHum, seorang dosen jurusan tari ISI Surakarta, yang membawakan tarian dari lakon epos Mahabharata selama 24 jam penuh tersebut.

Pria asal Klaten kelahiran 1963 itu begitu luar biasa menuntaskan tari Dewa Ruci selama 24 jam lebih 10 menit di Pendopo ISI Surakarta. Upaya dia mencari sangkan paraning beksan (tari) dalam kehidupan semesta betul-betul tercapai.

Ucapan selamat dari para kolega seni, dosen, mahasiswa, dan juga ratusan pemerhati seni tari membuat rasa penat beratnya seketika hilang. "Ini sungguh pengalaman yang luar biasa bagi saya," ujar Samsuri usai menyelesaikan tarian panjang yang sangat melelahkan fisik dan juga jiwanya itu.

Raut muka putra seniman wayang itu menunjukkan rasa puas. Ia yang tadinya mengaku prihatin dengan jagad tari, usai menari 24 jam tanpa henti, menjadi lebih semangat, dan meyakini bahwa seni beksa bukanlah sekadar seni pertunjukan panggung, tapi sudah menjadi napas kehidupan.

Dia menuturkan, banyak pengalaman batin yang diperoleh selama menari 24 jam tanpa henti. Di awal ketika ia mulai menari nonstop tersebut, Samsuri mengaku merasakan sesuatu yang sangat menganggu dan menghambat gerak tubuhnya. "Awal menari selama satu hingga dua jam, saya merasakan adanya hambatan. Namun kemudian dengan tekad diri, dan semakin merasuk ke dalam, saya akhirnya mampu menyelesaikan dengan baik tarian Dewa Ruci," imbuhnya lagi. (WJ/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya