Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA 45 menit berada di atas panggung dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) bersama para pemangku kepentingan di Sumatra Selatan betul-betul merupakan waktu yang amat bermakna. Bukan hanya bagi Gubernur, Bupati, Wali Kota, dan para perencana di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), tetapi juga buat publik di negeri ini. Jangan sampai salah arah dari level yang paling mendasar, yakni perencanaan.
Hal itu lah yang berulang kali disampaikan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya. Jangan salah mendesain perencanaan, mengalokasikan bujet, membuat prioritas, dan memilih portofolio bisnis. Bagi Arief, kesalahan itu merupakan dosa terbesar, karena akan berdampak signifikan pada daya saing generasi ke depan. "Kalau mau menjadi pemain dunia, pakailah standar dunia di bidang apa pun. Kalau merasa dirinya bagus, harus ditanya lagi, kata siapa?” ucap Menpar dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (12/4).
Pernyataan itu merujuk cara berpikit out world looking. Menurut Arief, ada negara yang bisa dijadikan contoh dalam hal itu, yakni Korea Selatan. Di negeri ginseng itu, industri kreatifnya sudah lebih besar berkontribusi bagi devisa negara, jika dibandingkan dengan industri manufakturnya. Korea menetaskan perusahaan berskala global yang mulai bersaing di bidangnya. Samsung misalnya, merambah ke semua sektor dengan menjual kreativitasnya.
“Fitur-fitur hi-tech yang didesain Samsung dan LG sebagai buah karya kreatif, sudah berhasil menggeser produk-produk elektronik Jepang, seperti Sony, Toshiba, Hitachi, dan lainnya,” katanya.
Begitu pula di bidang otomotif, seperti KIA dan Hyundai, yang terus merebak di pasar dunia dan diterima pasar karena pembangunan teknologinya. Demikian pula dalam teknologi smartphone, keluaran terbaru Samsung S-7 langsung menggebrak dunia, karena terdepan dalam teknologi.
Menpar Arief Yahya rupanya menjadi inspirator di forum Musrenbang Sumsel, yang berlangsung di Hotel Horison, Palembang, Selasa (12/4), itu. Di hadapan Gubernur Sumsel, Wali Kota dan Bupati se-Sumsel, mantan Dirut PT Telkom ini membeberkan, alasan sektor pariwisata diformat sebagai prioritas nasional, selain infrastruktur, energi, pangan, dan maritim.
Tanpa basa-basi, ia mengupas habis dari hal yang paling fundamental, yakni portofolio bisnis mumpung berada di tengah-tengah para pejabat perencana, yang akan membuat arah dan prioritas kebijakan daerah. "Jangan salah arah! Sekali salah menentukan haluan, semakin jauh dari cita-cita yang hendak dicapai," ucap Menpar lugas.
Arief tidak bermaksud mementahkan rencana besar yang sudah lama ingin diwujudkan di Bumi Sriwijaya itu. Apalagi sekadar mendapatkan pujian dan tepuk tangan riuh di hadapan sekitar 250 orang di sana. Dia sedang membongkar cara berpikir lama dengan pemahaman yang sangat mendasar, tentang tujuan yang hendak dicapai untuk menaikkan value Sumsel ke depan.
Menpar memulai dengan The Third Wave-nya Alfin Toffler dalam Future Shock yang sudah ditulis pada 1986. Ada tiga gelombang perubahan monumental dalam peradaban manusia. "Gelombang pertama adalah agriculture, kehidupan agraris, sektor pertanian. Lalu, gelombang kedua, manufacturing, pabrik-pabrik, era industri, era mesin-mesin produksi dan bersifat massal. Gelombang ketiga, era teknologi informasi. Saat ini adalah ujung dari gelombang ketiga itu,” kata insinyur jebolan ITB Bandung itu. (RO/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved