Bupati Badung Tolak Reklamasi Teluk Benoa

Arnoldus Dhae
11/4/2016 21:30
Bupati Badung Tolak Reklamasi Teluk Benoa
(ANTARA/FIKRI YUSUF)

PERNYATAAN mengejutkan disampaikan Bupati Badung Nyoman Giri Prasta menyangkut rencana reklamasi Teluk Benoa. Saat ditemui di Kuta, Bali, Senin (11/4), Giri Prasta menyampaikan sejak awal dirinya sudah menolak reklamasi Teluk Benoa.

"Sejak pencalonan saya, sikap saya sudah jelas. Saya tidak tahu apa itu reklamasi. Yang saya tahu itu adalah normalisasi. Dan kalau normalisasi, tidak usah diserahkan kepada investor. Itu jelas," ujarnya.

Menurutnya, normalisasi itu sama dengan menormalkan apa yang tidak normal saat ini. Dan kalau itu hanya normalisasi, tidak perlu mendatangkan investor. Adapun jika berbicara reklamasi, itu merupakan urusan pemerintah pusat.

"Urusan reklamasi Teluk Benoa itu kami serahkan ke pemerintah pusat. Kami di kabupaten tidak ada urusan dengan reklamasi," ujarnya.

Giri Prasta melanjutkan, normalisasi tidak ada berhubungan dengan reklamasi. Pemkab Badung, kata dia, tidak pernah dan tidak berwenang memberikan rekomendasi soal reklamasi Teluk Benoa lantaran hal tersebut merupakan urusan pemerintah pusat.

"Saya sendiri belum tahu dengan pasti apa itu reklamasi. Saya sejak awal menolak reklamasi Teluk Benoa. Sikap saya jelas," ujarnya.

Saat ditanya soal maraknya penolakan reklamasi Teluk Benoa dari desa adat di Bali, Giri Prasta menjelaskan apsirasi masyarakat itu memang wajib didengarkan. Sebagai pemimpin di Badung, aspirasi penolakan tetap diakomodasi, tetapi tu tidak bisa diterima bila melawan konstitusi.

Bupati yang baru terpilih tersebut menjelaskan, investasi di Badung hendaknya tidak merusak lingkungan, tidak mengganggu adat dan budaya Bali, serta tidak menabrak Perda Tata Ruang.

Ia pun mencontohkan normalisasi Tukad Mati. Normalisasi itu dilakukan agar aliran air mengalir dengan lancar ke laut. "Kalau tidak ada normalisasi, maka ancaman banjir rob akan terjadi," ujarnya.

Di pihak lain, investasi di Badung tetap terbuka lebar tetapi harus melalui kajian ilmiah seperti apa konsepnya. Ia menjamin, untuk di wilayah Bali selatan masih terbuka investasi karena kemacetan sudah teratasi. Adanya underpass Simpangsiur, Tol Bali Mandara, pengaturan parkir di beberapa titik membuat kemacetan semakin berkurang saat ini. (OL/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya