Kelompok Santoso Makin Terjepit di Lore Bersaudara

M Taufan SP
29/3/2016 20:12
Kelompok Santoso Makin Terjepit di Lore Bersaudara
(ANTARA)

KELOMPOK sipil bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso alias Abu Wardah dipastikan tidak akan keluar dari kepungan tim gabungan TNI dan Polri yang masuk dalam Operasi Tinombala 2016 di Poso.

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulawesi Tengah, Brigadir Jendral Rudi Sufahriadi mengatakan hingga saat ini kelompok tersebut semakin
terjepit di titik pelarian yang tersebar di Kecamatan Lore Bersaudara yang meliputi Kecamatan Lore Tengah, Timur, Utara, Barat, Selatan, dan Kecamatan Lore Piore.

"Mereka sudah tersebar dan tidak bisa keluar dari kepungan. Kalau pun mereka keluar dari titik pelarian dan persembunyiannya pasti tertangkap," terang Rudi, Selasa (29/3).

Rudy memastikan, razia yang terus diintensifkan di jalur pintu masuk dan keluar Kecamatan Lore Bersaudara bisa lebih mempersempit ruang gerak dari simpatisan dan pengikut kelompok itu untuk memberikan bala bantuan.

"Kalau pun ada yang berani untuk mendekati razia itu, berarti menyerahkan diri. Karena razia semakin hari semakin diintensifkan. Kami harap tidak ada yang bisa lolos dari kelompok tersebut. Entah mereka mau keluar atau pun ada yang mau masuk," jelas Rudi.

Sampai saat ini pula Polda belum bisa menargetkan kapan bisa menangkap hidup atau pun mati seluruh pengikut termasuk pimpinan kelompok yang telah terafiliasi dengan Islamic State (IS) tersebut.

Pun demikian, beras harapan Polda dengan adanya pengepungan yang membuat kelompok tersebut tidak bisa banyak bergerak bisa lebih mendekatkan waktu untuk proses penangkapan seluruh orang yang ada di dalam MIT.

"Kami tidak bisa menarget. Yang pasti saat ini mereka sudah terkepung dan tinggal menunggu waktu saja untuk penangkapannya," imbuh Rudi.

Diperkirakan, kelompok tersebut saat ini tinggal beranggotakan sekitar 25 orang. Jumlah tersebut sudah termasuk tiga wanita asal Bima, Nusa Tenggara Barat, tiga amir MIT yakni Santoso alias Abu Wardah, Basri alias Bagong, dan Ali Kalora alias Ahli Bom, serta dua orang asal Uighur, Xinjiang, Tiongkok.

Sebelumnya, dari awal Operasi Tinombala 2016 yang dimulai Januari lalu sudah tercatat 10-an anggota kelompok itu yang tewas setelah terlibak
kontak senjata dengan tim gabungan TNI dan Polri. Dari jumlah itu, empat anggota MIT yang tewas merupakan WNA asal Uighur yang teridentifikasi bernama Farouk alias Magalasi, Nuretin alias Abdul, Joko alias Turang Ismail, dan Tiger.

Tidak hanya 10-an orang anggota MIT yang ditangkap mati dalam operasi tersebut, melainkan ada beberapa simpatisan dan pengikut MIT juga yang ditangkap yang hingga saat ini masih dalam pemeriksaan lebih lanjut di Polda Sulawesi Tengah. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya