Tim Dokter Bantah Rekayasa Hasil Tes Medis Bupati

Dwi Apriani
16/3/2016 22:15
Tim Dokter Bantah Rekayasa Hasil Tes Medis Bupati
(ANTARA/WIDODO S JUSUF)

SETELAH terungkap Bupati Ogan Ilir Ahmad Wazir Nofiadi sejak lama telah mengonsumsi narkoba, tim dokter Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang, Sumatra Selatan, akhirnya angkat bicara. Mereka bersuara ke awak media karena merasa disudutkan.

Mereka terpojok lantaran kabar angin bahwa tim dokter telah memanipulasi hasil pemeriksaan kesehatan Nofiadi saat pemilihan umum kepala daerah (Pilkada), beberapa waktu lalu.

Sebanyak 25 dokter yang tergabung dalam tim pemeriksa saat itu pun mengaku siap diperiksa oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) atas tuduhan tersebut.

Komite Medik RSMH Zulkhair Ali mengatakan, seluruh keputusan dari pemeriksaan selalu dirapatkan secara internal oleh tim dokter yang telah ditunjuk.

"Semua dokter bekerja dengan kode etik bahkan sudah disumpah. Kami profesional saat melakukan tes. Tidak ada rekayasa apapun," ucapnya.

Para dokter yang terlibat saat pemeriksaan kesehatan itu, lanjut dia, sudah berpengalaman dalam setiap pekerjaan yang diemban. "Kalau BNN mau memeriksa (tim dokter), kami siap. Seluruh data Bupati Ogan Ilir waktu tes masih kami simpan dalam arsip. Jika diminta kami akan serahkan dokumennya," jelas Zulkhair.

Direktur Medik dan Keperawatan RSMH HM Elsen Arlan menerangkan, ada 25 dokter yang tergabung di dalam tim pemeriksaan kesehatan Nofiadi dan pasangannya pada Agustus 2015 lalu sesuai prosedur peraturan pemeriksaan kesehatan bagi calon pemimpin daerah yang juga setara dengan prosedur pemeriksaan calon presiden.

"Semua hasilnya terdokumentasi dan telah di bagikan sesuai prosesur peraturan IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Termasuk poin-poin pemeriksaan, tentunya hasil tidak terintervensi oleh siapa pun dengan prosedur yang tepat dan terakreditasi, dan hasil tes itu bisa dipertanggungjawabkan," beber dia.

Kepala Instalasi Patologi Klinik dan Mikrobiologi Phey Liana menuturkan, saat menjalani pemeriksaan kesehatan di RSMH, para calon hanya menjalani tes urine. Adapun uji rambut memang tidak dilakukan sesuai prosedur.

"Memang rambut yang paling lama dan bisa bertahan beberapa bulan. Tetapi kita berpatokan hanya kepada urine, sesuai dengan prosedur yang diminta. Kalau pun diperiksa rambut, itu lebih mengacu kepada jalur hukum," ungkapnya.

Diakuinya, para dokter yang ditunjuk hanya melakukan tes urine saat itu. "Apabila tes urine tersebut dinyatakan positif, maka mereka melakukan konfirmasi ulang kepada calon pasien untuk memastikan obat apa yang digunakan dan menunjukkan resep obatnya. Barulah akan diadakan tes lanjutan berupa tes darah atau lainnya," tuturnya.

Namun, lanjut dia, tes darah juga mempunyai waktu deteksi yang lebih singkat. Sebab, hasil metabolik disekresi ke darah baru ke urine, dan deteksi darah lebih cepat hilang. Sedangkan zat kimia di dalam urine bisa hilang sekitar tiga hari, tergantung faktor-faktor pendukung, di antaranya banyak minum air, penggunaan narkoba dosis rendah atau sedikit, serta ph urine.

Terkait adanya dugaan rekayasa dalam pemeriksaan, Kepala Bidang Pelayanan Medik Rita Mustika menjelaskan seluruh para calon yang menjalani tes urine dilakukan secara profesional. Bahkan sebelum berlangsungnya tes, para pasangan calon diberi baju khusus, serta pot urine dan didampingi oleh satu orang perawat.

Sementara itu, Kepala Unit Rehabilitas Napza RS Ernaldi Bahar Provinsi Sumsel, Yatiman, mengatakan kandungan narkoba dalam tubuh bisa cepat hilang. Pasalnya, kandungan itu hanya bertahan satu sampai dua pekan lebih di urine.

Namun, berbeda jika tes narkoba dilakukan dengan menggunakan rambut. Efek kandungan narkoba akan tetap bisa dianalisis karena dalam penggunan tes tersebut bisa mendeteksi lebih lama atau sekitar 3 bulan semenjak si pemakai menggunakan narkoba.

"Untuk alat pemeriksaan hanya terbatas pada urine dan rambut, namun untuk yang lebih akurat bisa mengunakan analisa darah. Kendalanya, alat ini hanya tersedia di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) di Jakarta," ungkapnya.(DW/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya