Akibat Larangan Kapal Asing, 100 Ton Kerapu Gagal Ekspor

Ahmad Novriwan
15/3/2016 17:55
Akibat Larangan Kapal Asing, 100 Ton Kerapu Gagal Ekspor
(ANTARA)

BUDIDAYA ikan kerapu (epinephelus pachycentru) di keramba jaring apung (KJA) di perairan Teluk Lampung, yang mulai bangkit sejak 2013 silam, kembali terancam gulung tikar. Pasalnya, Menteri Kelautan dan Perikanan melarang kapal asing masuk membeli ikan kerapu, sedangkan kapal lokal sebagai alternatif belum siap.

Setidaknya, 100 ton ikan kerapu siap jual tidak bisa diekspor sejak awal Februari lalu. Pada 1 Februari lalu, Dirjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengeluarkan surat edaran (SE) bernomor 721/DPB/PB.510.S4/II/2016 yang ditujukan kepada para gubernur, bupati/wali kota, kadis perikanan provinsi/kabupaten/kota se-Indonesia.

SE itu perihat kapal pengangkut ikan hasil pembudidayaan berbendera asing (SIKPI-A). Isinya, menghentikan operasional bagi kapal-kapal pengangkut ikan hasil pembudidayaan berbendera asing (SIKPI-A) dengan ketentuan, tidak dilakukan penerbitan izin bari bagi SIKPI. Terhadap SIKPI yang telah habis masa berlakunya tidak diperpanjang dan terhadap SIKPI yang masih berlaku akan dicabut dan tidak berlaku sejak SE diterbitkan.

"Alasan pelarangan ini sebagai upaya mencegah masuknya barang-barang terlarang dan zat-zat berbahaya lainnya mengingat saat ini marak penggunaan potasium sianida maupun bahan kimia dan peledak lainnya oleh nelayan untuk menangkap ikan," ujar Kordinator Forum Keramba Jaring Apung Lampung Edward Siallagan di Bandar Lampung, Selasa (15/3) siang.

Padahal, lanjut Edward, sejak ia terjun ke bisnis ikan kerapu pada 1991, belum pernah terjadi masalah dengan kapal asing dari Hong Kong yang membeli ikan ke Indonesia. Apalagi saat membeli ikan, di kapal tersebut sudah ada petugas Bea Cukai dan Stasiun Karantina Ikan.

Akibat pelarangan tersebut, terdapat setidaknnya sekitar 50-60 ton ikan kerapu per bulan yang dibudidayakan 42 pengusaha KJA di Teluk Lampung yang tidak bisa diekspor. Bahkan, jika hingga Desember tidak bisa ekspor hampir 500 ton kerapu yang tidak bisa dijual yang saat ini sedang dibesarkan di sekitar 2.500 petak KJA yang tersebar di perairan Ringgung, Tanjung Putus, Pulau Pahawang, Legundi dan Siuncal.

Berapa nilai kerugian yang bakal diderita, Edward memberi gambaran bahwa harga ekspor kerapu cantik yang mereka budidayakan mencapai Rp140 hingga Rp150 ribu per kg. "Jika sebulan tidak bisa diekspor 50 ton maka kerugian kami bisa mencapai Rp7,5 miliar. Itu baru sebulan saja dari Teluk Lampung. Belum lagi dari Pangkalan Susu (Sumut), Sibolga, Padang, Bangka Belitung, Riau Kepulauan, Situbondo dan Bali," jelas Edward.

Bahkan, ungkapnya, akibat pelarangan ini, kapal ikan Hong Kong yang sudah memuat kerapu di Sibolga, Sumut, pada 28 Februari lalu dipaksa petugas menurunkan ikan yang sudah dimuat dan diusir agar meninggalkan perairan Indonesia.

Oleh karena itu, Edward dan kawan-kawan berharap SE pelarangan kapal asing tersebut ditinjau kembali sampai kapal berbendera Indonesia siap untuk mengekspor kerapu dari Tanah Air ke negara tujuan Hong Kong.

Menurut Edward, sebetulnya budidaya ikan kerapu di Indonesia umumnya dan Lampung khususnya baru saja kembali aktif setelah bangkrut pada 2013 silam karena merosotnya permintaan ikan kerapu bebek dari Hong Kong. Saat itu, kenangnya, muncul kampanye besar-besaran dari pemerintah China agar warganya tidak mengonsumsi ikan kerapu bebek yang harganya mahal. Dan kampanye itu menunjukkan hasil sehingga permintaan ikan jenis ini dari Indonesia merosot tajam.

Lalu, khususnya di Teluk Lampung, iklim budidaya kerapu diperparah akibat terserang alga merah (rhodophyta) sejak akhir 2013 dan berlanjut ke 2014 yang mengakibatkan pengusaha KJA mengalami kerugian miliaran rupiah.

Baru pertengahan 2014, pembudidaya kerapu sistem KJA di Teluk Lampung berusaha bangkit dengan mengganti jenis ikan dari kerapu bebek ke kerapu cantik, yang merupakan hasil persilangan antara betina kerapu macan (epinephelus fuscoguttatus) dan jantan kerapu batik (epinehelus microdon).

"Pada saat pasarnya mulai terbuka ke Hongkong dan permintaan terus meningkat, lantas kapal yang membawa ikan ke Hongkong dilarang pula masuk ke Indonesia. Akibatnya, ikan kerapu terancam tidak bisa diekspor ke Hong Kong," lanjut pemilik KJA di Pulau Legundi, Teluk Lampung.

Padahal, awalnya para pengusaha KJA di berbagai sentra kerapu di Tanah Air kembali bersemangat untuk melakoni budidaya kerapu mengingat terbukanya peluang pasar karena kerapu jenis ini mulai digandrungi konsumen di Hong Kong. Harga jualnya sekitar 10 hingga 12 dolar AS per kg lebih murah jika dibandingkan dengan kerapu bebek, adapun citarasanya tidak jauh berbeda.

Bahkan, importir di Hong Kong juga mulai memasarkannya ke China dan Taiwan. Melihat besarnya peluang pasar, ungkap Edward, berkembanglah budidaya kerapu cantik sistem KJA di Pangkalan Susu (Sumut), Sibolga (Sumut), Padang (Sumatra Barat), Bangka dan Belitung, Teluk Lampung, Situbondo (Jawa Timur), dan Bali.

Di perairan Teluk Lampung sendiri, Edward mendata, terdapat sekitar 30 pengusaha KJA dengan jumlah bibit yang ditebar hingga 2 juta ekor. Edward sendiri merupakan yang terbesar dengan jumlah bibit yang ditebar 200 ribu ekor yang ditebar di 700 petak KJA.

"Dengan kerapu cantik ini kita ingin mengulang sukses budidaya kerapu bebek yang sebelumnya hancur dan sebagai upaya memanfaatkan KJA yang sudah terlanjur dibangun dengan dana besar," katanya.

Rata-rata untuk membangun KJA dibutuhkan dana Rp3 juta/petak. Untuk membangun 700 petak KJA, Edward membenamkan dana Rp2,1 miliar.

Permintaan besar
Edward yang sudah malang melintang di budidaya kerapu hampir 20 tahun terakhir ini menyatakan, permintaan kerapu cantik dari importir di Hong Kong cukup besar. Bahkan, karena begitu besarnya, pembudidaya kerapu di Tanah Air yang tidak mampu memenuhi permintaan tersebut mengingat baru sebagian pembudidaya kerapu yang mulai aktif kembali.

Selain itu, ketersediaan bibit kerapu cantik dari Situbondo, Jawa Timur, dan Bali juga masih kurang. Pascakejatuhan kerapu bebek tempo hari, sebagian besar pembudidaya kerapu bebek di Lampung beralih profesi dan membiarkan KJA miliknya terlantar.

Apalagi mereka mengalami kerugian besar akibat serangan alga merah akhir 2013 lalu. Di antaranya ada yang sudah menjadi kontraktor dan ada pula yang membuka rumah makan. "Bahkan ada yang menjadi pengusaha rental mobil," ungkap Edward.

Ia sendiri masih tetap bertahan di budidaya kerapu karena memang sudah hidup dan kehidupannya di budidaya ikan laut sejak di Medan dulunya sebelum pindah ke Lampung. Saat ini ia membudidayakan kerapu cantik pada 700 petak KJA masing-masing berukuran 2,5 kali 5 meter di perairan pantai Pulau Legundi dan Siuncal.

Pria yang berasal dari pinggiran Danau Toba, Sumut, ini mengaku sangat terbantu oleh Michael Chandra. Di bawah bendera PT Sumatera Building Marine (SBM), pakar perikanan jebolan perguruan tinggi ternama di Australia ini berhasil menyilangkan betina kerapu macan (epinephelus fuscoguttatus) dan jantan kerapu batik (epinehelus microdon) sehingga lahir kerapu cantik.

Menurut Edward, kerapu macan merupakan varietas yang pertumbuhannya cepat tetapi rentan penyakit sehingga SR-nya rendah yakni hanya sekitar 40%. Adapun kerapu batik, pertumbuhannya tidak secepat kerapu macan, tetapi lebih tahan terhadap serangan penyakit sehingga SR-nya mencapai 90%, bahkan bisa 95%.

Dari hasil persilangan kedua varietas ini diperoleh kerapu cantik yang pertumbuhannya lebih cepat ketimbang kerapu batik, tapi lebih tahan penyakit dibanding kerapu macan sehingga SR-nya tinggi. Kini terdapat sekitar 2,2 juta bibit kerapu cantik di Bali dan Situbondo yang baru berukuran 3 cm yang siap disebar ke berbagai sentra kerapu jika panjangnya sudah mencapai 10 cm.

Edward mengkhawatirkan, jika kerapu Indonesia tidak masuk lagi ke Hong Kong, negara pesaing utama yakni: Malaysia, Thailand, dan Vietnam bagai memetik durian runtuh karena terdapat pasar yang ditinggalkan Indonesia yang bisa mereka isi. "Apalagi Malaysia sudah berhasil mengembangkan kerapu cantang yang merupakan persilangan antara ikan kerapu macan dan kerapu kertang," ungkapnya. (NV/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya