Melebihi Pertanian Organik

Ardi Teristi Hardi
12/3/2016 08:45
Melebihi Pertanian Organik
(MI/Ardi Teristi Hardi)

TEPAT di luar jendela lantai dua asrama Yayasan Bina Sarana Bakti (BSB), tanaman daun bawang tumbuh berdampingan dengan kangkung dan bayam. Di bed penanaman lainnya, giliran wortel yang berdampingan dengan jagung.

Variasi penanaman dalam tiap bed berukuran 1 x 10 meter bukan tanpa maksud. Variasi itu dilakukan untuk menciptakan interaksi yang saling menguntungkan antara tanaman dan lingkungan.

Tanaman seperti daun bawang yang berbau tajam berfungsi sebagai repellent (pengusir hama). Sementara itu, tanaman yang berbatang tinggi dan keras, seperti jagung, berfungsi sebagai tanaman pagar yang melindungi rumah dari terpaan angin. Seluruh tanaman yang dibudidayakan itu pun tetap bernilai ekonomis.

Simbiosis mutualisme itulah yang selama ini disebarluaskan yayasan yang terletak di Jalan Gandamanah, Cisarua, Bogor, itu. Sejak didirikan pada 1984 oleh rohaniwan asal Swiss, Pastor Agatho, yayasan itu memang mengusung konsep organis, bukan hanya organik.

“Organis beda dengan organik. Kalau di strata itu organis di atas organik. Kami bukan hanya dalam teknik budi dayanya, melainkan juga seluruh kehi­dupannya. Pertanian organis itu menciptakan harmoni dengan alam, salah satunya, ga perlu ada yang dibunuh,” ujar Ardi, staf BSB, kepada Media Indonesia, Selasa (23/2).

Tentunya, agar harmoni dapat berjalan dengan baik, fungsi-fungsi tanaman harus dipahami dengan baik. BSB sendiri membudidayakan sekitar 100 jenis tanaman. Selain terbagi dalam jenis tanaman konsumsi biasa, tanaman repellent, dan tanaman pagar, ada pula tanaman yang berfungsi sebagai pupuk hijau.

Tidak hanya lewat variasi tanaman, harmoni juga diciptakan lewat rotasi penanaman. Untuk mencegah penyakit berkembang, misalnya, lahan bekas penanaman wortel diganti dengan tanaman legum.

“Jadi, saat bakteri hampir aktif, tanaman sudah diganti. Dengan begitu, penyakit bisa dihambat tanpa perlu membunuh,” tambah Kepala Divisi Pendidikan dan Pelatihan (Diklat), Dian A Yamin, sembari berkeliling di lahan perkebunan seluas 12 hektare di area asrama itu.

Di sisi lain, Kepala Divisi Produksi dan Kemitraan, Yoga Purwanto, mengungkapkan organis juga bukan berarti harus sepenuhnya steril dari bahan kimia atau pencemar. Ini seperti berkaca pada lingkungan sekitar area pertanian BSB yang banyak terdapat permukiman penduduk.

Meskipun BSB menerapkan filtrasi dengan menggunakan tanaman air, diakui bahan pencemar bisa tetap ada. “Jadi, yang terpenting meminimalkan. Kalau harus steril, di mana pun di dunia ini sudah tidak bisa,” tambahnya.
Dengan pemahaman seperti itu pula, BSB yakin pertanian organis dapat dilakukan di mana pun, termasuk di perkotaan. Dengan semakin banyak yang melakukan pertanian organis, kondisi tanah dengan sendirinya akan ikut dipulihkan.

Lebih jauh lagi, masyarakat akan kembali menghargai dan hidup saling menguntungkan dengan alam. Inilah sesungguhnya tujuan besar pertanian organis yang ingin mereka sebarkan.

Fair trade
Tidak hanya menjalankan itu sendiri, BSB menyebarluaskan konsep organis dengan membuka pelatihan bagi berbagai kalangan. BSB mengaku senang karena tidak sedikit petani di wilayah sekitar yang tertarik dan menerapkan konsep pertanian organis di lahan masing-masing.

Kepada mereka, BSB membantu pemasaran dengan sistem perdagangan yang adil (fair trade). Salah satunya dilakukan dengan memperhitungkan uang jaminan hari tua di harga sayuran. “Misal harga sayuran itu di pasar Rp3.000/kg, nah ini kita beli Rp5.000/kg karena ada uang untuk jaminan hari tua petani. Memang lebih mahal, tapi fair trade harus begitu,” tambah Ardi.

Lebih dari itu, harga yang bagus tersebut menurutnya wajar sebagai apresiasi kepada petani yang mau menghasilkan pangan yang aman dan sehat bagi masyarakat. Nyatanya, meski mahal, produk mereka laris manis di pasaran. Bahkan, BSB mengaku sesungguhnya belum memenuhi seluruh permintaan pasar. Produksi sayur mereka yang berkisar 12-15 ton per bulan habis terserap di 37 agen mereka di Jabodetabek.

Di sisi lain, BSB berharap ada dukungan lebih besar dari pemerintah terhadap pertanian ramah lingkungan. Selama ini para petani kerap kesulitan mendapatkan sertifikat organik karena keterbatasan dana. Padahal, sertifikat merupakan salah faktor untuk memperluas pasar.
Salah satu solusi mudah sebenarnya bisa menggunakan penjaminan pihak ketiga.
Cara petani mendapatkan penjaminan tentang sistem pertanian organik mereka dari pihak lain yang tepercaya sesungguhnya telah umum di luar negeri. Sayangnya cara itu belum diakui di Indonesia. (Big/M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya