Untung Berlipat dengan Mina Padi

Ardi Teristi Hardi
12/3/2016 08:30
Untung Berlipat dengan Mina Padi
(MI/Ardi Teristi Hardi)

SEGEROMBOLAN ikan mas langsung muncul begitu Wahyudi menyebar pakan. Bukan di kolam, ikan-ikan itu hidup di area persawahan kelompok taninya.

“Setiap hari saya rutin memberi makan mereka dua kali, pagi dan sore,” kata Wahyudi yang ditemui Media Indonesia di persawahan kelompok tani Mina Makmur di Dusun Kandangan, Desa Martodado, Sayegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (11/3).

Pria 45 tahun itu mengaku menghabiskan pakan ikan hingga 2 kuintal per 1.000 meter persegi hingga panen. Sawahnya mencapai 2.500 meter persegi dari sekitar 6 hektare sawah kelompok itu.

Area persawahan mereka menerapkan budi daya mina padi. Artinya, selain ditanami padi, di area persawahan tersebut ditebar benih-benih ikan.

Untuk menerapkan sistem itu, ada pengurangan lahan tempat tanam padi sekitar 10%-20%. Lahan itu untuk caren (perlindungan ikan saat aplikasi pupuk) dan kolam dengan kedalaman 70-80 sentimeter.

Ketua Kelompok Mina Makmur, Aryantono, menyebut pengurangan lahan tersebut tidak mengurangi produktivitas padi yang dihasilkan. “Kami menanam padi jenis ciherang dengan hasil yang sama, yaitu 6-7 ton per hektare,” kata Aryantono.

Malah mina padi membawa keuntungan karena ada hasil panen ikan. Tiap hektare sawah, mereka bisa memanen 1,3 ton ikan dengan berat rata-rata sekitar 30 gram.

Selain mengurangi lahan untuk tempat menanam padi, area persawahan di sana sebagian dipasangi jaring. Jaring-jaring tersebut berfungsi melindungi ikan saat masih kecil dari sergapan burung-burung.

“Kami sudah mengembangkan mina padi sejak 2011. Saat itu hanya 1.000 meter persegi, sedangkan sekarang sudah 18 hektare,” tambah Timbul Prasetyo, Sekretaris Kelompok Mina Tani Murakabi. Kelompok itu juga berada di Kecamatan Sayegan.

Dalam budi daya mina padi, panen ikan dilakukan terlebih dulu sebelum panen padi. “Keuntungan secara ekonomi mencapai Rp5 jutaan per seribu meter persegi, sedangkan jika menanam padi saja keuntungannya hanya Rp1,5 jutaan,” kata dia.

Percontohan
Widi Sutikno, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Slamen, menerangkan sebelumnya mina padi dilakukan secara swadaya oleh kelompok tani dengan luasan 1.000-3.000 meter persegi. Pada 2015, Kabupaten Sleman ditunjuk Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) sebagai salah satu percontohan mina padi. Dari situ dibuat lokasi percontohan mina padi seluas 25 hektare.

Jenis ikan yang dibudidayakan ialah udang galah dan nila. Udang galah dibudidayakan di dataran tinggi, sedangkan nila di dataran yang lebih rendah.

Dengan besarnya keuntungan lewat cara mina padi, pemkab berencana mendorong usaha pembenihan dan pakan mandiri. “Pembenih kami belum sanggup memenuhi semua, sedangkan pakan ikan mandiri baru 5%,” kata Widi.

Saat ini kebutuhan pakan ikan berkisar 30 ribu ton per tahun. Jika pakan mandiri bisa dipenuhi, petani bisa menghemat Rp2.000-Rp3.000 per kilogram.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Tri Haryanto menyebut program mina padi juga menggandeng Kementerian Pertanian. Keberhasilan program mina padi diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi perikanan budi daya. Pada 2015, target produksi perikanan budi daya 17,9 juta ton. Untuk tahun ini, hasil sementara yang didapat mencapai lebih dari 17 juta ton, sedangkan target perikanan budi daya tahun ini 19,45 juta ton.

Untuk itu, pihaknya juga mendorong mina padi bisa diterapkan lebih luas lagi pada tahun ini di daerah-daerah yang memungkinkan, yang punya sumber daya air banyak.

“Kami ingin terus mendorong perikanan budi daya yang mandiri berdaya saing dan berkelanjutan, tanpa bahan-bahan berbahaya, ramah lingkungan,” kata dia. (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya