Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
HARI Raya Nyepi yang biasanya membuat Bali menjadi 'pulau mati' kali ini sedikit berbeda. Pada perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1938, kemarin (Rabu, 9/3), Pulau Dewata memang lengang, tapi di beberapa tempat ada geliat kehidupan. Di situlah indahnya toleransi terealisasi.
Sejumlah pria berbaju koko dan berpeci melenggang menuju Masjid Nurul Huda, Tuban, Badung, kemarin pagi. Tampak pula beberapa wanita yang mengenakan mukena. Mereka berjalan kaki dalam keheningan, tidak bercakap-cakap, juga tidak merokok.
Pada hari-hari biasa, pemandangan seperti itu memang lumrah. Namun, kemarin bukanlah hari biasa. Kemarin, penduduk Bali yang mayoritas beragama Hindu tengah merayakan Nyepi dengan menjalankan caturbrata atau empat pantangan. Salah satunya yakni amati lelungan atau tidak bepergian.
Pada saat Nyepi, umat lain di Bali pun biasanya juga tak bepergian ke mana-mana demi menghormati saudara mereka yang beragama Hindu. Hanya ribuan pecalang atau petugas keamanan adat yang berjaga di jalan-jalan untuk memastikan perayaan Nyepi berlangsung sebagaimana mestinya.
Lalu, kenapa umat Islam bisa leluasa menuju masjid? Sekali lagi, itulah wujud nyata toleransi beragama di tanah Bali. Kemarin memang hari istimewa di Bali karena Nyepi berbarengan dengan gerhana matahari. Bagi muslim, gerhana matahari atau gerhana bulan biasa disikapi dengan salat sunah gerhana.
Meski Bali tengah Nyepi, umat Islam masih berkesempatan bepergian ke masjid atau musala untuk menunaikan salat gerhana. Toleransi betul-betul dijunjung tinggi, bahkan para pecalang ikut mengawal dan mengamankan pelaksanaan salat sunah gerhana.
Di Masjid Nurul Huda, salat gerhana dilakukan mulai pukul 08.27 Wita. Mereka menjalankan ibadah tanpa pengeras suara sebagai bentuk penghormatan kepada umat Hindu yang merayakan Nyepi. Untuk pergi pulang ke masjid atau musala, umat Islam juga tak menggunakan kendaraan, tetapi hanya berjalan kaki.
"Terima kasih, kami diizinkan melaksanakan salat (gerhana) di masjid-masjid. Ini bentuk toleransi umat beragama," kata ustaz Masjid Nurul Huda, Muhammad Anwar.
Dari sembilan kabupaten/kota di Bali, hanya Kabupaten Tabanan yang meminta muslim bersalat gerhana di rumah masing-masing. Ketua Majelis Umum Desa Pakraman (MUDP) Bali Jero Gede Suwena Putus Upadesa mengatakan pelaksanaan salat gerhana pada Hari Raya Nyepi, kemarin, berlangsung lancar.
Ia senang umat Islam menjalankan kesepakatan yang dibuat antara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali dan Forum Kerukunan Antarumat Beragama (FKUB) Bali. Dalam kesepakatan itu antara lain diatur bahwa umat Islam salat gerhana di masjid atau musala terdekat.
Mereka juga harus berjalan kaki serta mengenakan pakaian untuk beribadah saat menuju masjid. "Ini sudah kesepakatan. Pecalang wajib menjaga dan mengamankan warganya yang akan melakukan salat gerhana sampai habis dengan aman dan lancar," ujar Jero Gede.
Pelaksanaan salat gerhana matahari di tengah perayaan Nyepi kian menebalkan harmoni antarumat beragama di Bali.(OL/RS/X-9)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved