Data Intelijen Elemen Penting Untuk Tangkap Santoso

M Taufan SP
02/3/2016 17:42
Data Intelijen Elemen Penting Untuk Tangkap Santoso
(ANTARA FOTO / ZAINUDDIN MN)

TEKAD pemerintah untuk menumpas kelompok sipil bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso dengan menggelar Operasi Tinombala 2016 patut mendapat apresiasi. Namun, pola operasi penangkapan Santoso cs harus lebih baik dibanding operasi yang sama sebelumnya.

Hal tersebut diungkapkan Direktur LPS-HAM Sulawesi Tengah M Affandi. Menurutnya, jika pola operasi penumpasan saat ini sama seperti Operasi Camar Maleo 1, 2, 3, dan 4, bukan tidak mungkin Operasi Tinombala 2016 akan gagal menangkap Santoso cs, hidup atau mati.

"Kalau polanya masih sama percuma. Kami pesimis Polri khususnya Polda Sulteng berhasil menangkap mereka semua walau masa Operasi Tinombala 2016 diperpanjang," kata Affandi, Rabu (2/3).

Menurutnya, jika ingin menumpas seluruh pengikut, jaringan, dan pimpinan MIT, Polri harus menggali informasi lebih dalam dari kelompok tersebut. "Ya tentunya data dari intelijen harus valid. Kalau hanya kejar, tangkap, dan sikat saya pikir bukan cara yang tepat. Cukup operasi Camar Maleo 1, 2, 3, dan 4 saja yang menggunakan pola seperti itu. Untuk Operasi Tinombala, harus benar-benar serius," tegas Affandi.

Jika langkah baru tersebut dilakukan, Affandi yakin Polri bisa menangkap seluruh pengikut Santoso. Tetapi LPS-HAM berharap, Polri tidak melakukan penangkapan secara serampangan sehingga membuat nyawa dari orang-orang di kelompok itu terancam.

"Intinya mereka harus ditangkap hidup biar jaringannya di luar sana terbongkar. Kalau Polri ingin menangkap mati itu keputusan yang salah," jelas Affandi.

Sejauh ini, menurut Affandi, langkah yang dilakukan tim gabungan TNI-Polro dalam satgas Operasi Tinombala sudah cukup baik dari operasi sebelumnya. "Langkah ini juga harus terus dilakukan biar jaringan atau pengikut kelompok itu yang masih berkeliaran bisa tertangkap semua," jelas Affandi.

LPS-HAM juga berharap masyarakat bisa membantu kerja-kerja TNI-Polri. Tentunya dengan memberikan informasi jika menemukan atau mengetahui adanya pengikut atau pun jaringan kelompok tersebut di lingkungan mereka.

"Masyarakat jangan takut untuk memberikan informasi. TNI dan Polri pasti akan menjamin keselamatan mereka jika memang bisa memberikan informasi tentang orang-orang yang radikal tersebut," tandas Affandi.

Sementara itu, jenazah satu anggota MIT yang tewas di Desa Torire, Kecamatan Lore Tengah hingga kini masih berada di RS Bhayangkara. Belum ada identitas resmi yang dipublis Polda dari jenazah tersebut.

Sedangkan pascabaku tembak Selasa (1/3) di Desa Talabaso, Kecamatan Lore Tengah, satu personel TNI terluka sudah dievakuasi dan saat ini masih menjalani perawatan di RS Palu. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya