Menghindari Banjir malah Kena Pungli

Heri Susetyo/X-8
18/2/2016 07:29
Menghindari Banjir malah Kena Pungli
(ANTARA/Umarul Faruq)

SAAT berangkat ke tempat kerja di Sidoarjo, Jawa Timur, Ismail, 38, nekat menerjang genangan air di Jalan Raya Porong. Namun, ia tidak menduga motornya yang bersasis tinggi itu tetap tenggelam hingga sadel. Mesin motor pun mati. Terpaksalah warga Kabupaten Pasuruan itu mendorong kendaraan roda duanya dari genangan air. Niatnya buru-buru berangkat kerja justru memaksanya merogoh kocek untuk memperbaiki motornya ke bengkel.

"Saya setengah menyesal campur kecewa, karena di jalan mau masuk genangan tidak ada papan peringatan berapa kedalaman air," ujar Ismail dengan mimik wajah jengkel, kemarin.

Sehari sebelumnya Ismail juga melewati tanggul di Jalan Raya Porong yang becek. Itu pun dia harus membayar pungutan liar oleh warga yang berjaga di pintu masuk tanggul. Ia kembali melintasi Jalan Raya Porong karena mengira genangan sudah surut.

Senasib dengan Ismail, Hartoyo, 30, warga Bangil, Pasuruan, juga menggerutu karena motor sportnya mogok. Awalnya pekerja sebuah pabrik di Sidoarjo itu yakin kendaraannya bisa melalui genangan air setinggi 40 sentimeter itu. Hartoyo pun terpaksa menuntun motornya karena mogok.

Jalan Raya Porong selama ini menjadi jalur utama penghubung Pasuruan dan Malang dengan Kota Surabaya, terutama bagi mereka yang bersepeda motor. Pengendara mobil lebih banyak melewati jalur arteri dan langsung masuk ke tol untuk menuju Surabaya. Demikian pula dengan rute sebaliknya dari Surabaya ke Malang atau Pasuruan.

Pengendara motor sebenarnya bisa mengambil jalur pintas lewat tanggul, tetapi kondisi jalannya sangat becek sehingga sulit dilalui, dan dijamin motor yang melaluinya akan menjadi sangat kotor penuh lumpur. Selain itu, pengendara motor kerap dimintai uang oleh sekelompok warga yang biasa mangkal di pintu masuk tanggul.

Genangan air di kawasan Porong ternyata membawa derita bagi warga yang bermukim di dekat tanggul penahan lumpur Lapindo itu. Bahkan, sejumlah desa sudah terendam air setinggi 40 cm selama dua minggu terakhir. Warga pun harus membeli air bersih untuk keperluan memasak dan mandi.

"Pakai airnya harus ngirit," katanya. Nasib sial akibat banjir juga dialami Khoirul, 45, petani di Desa Gempolsari yang merugi puluhan juta rupiah akibat sawahnya terendam banjir.

"Kami berharap pemerintah bisa berupaya bagaimana caranya agar banjir segera surut," pungkas Khoirul. Di sisi lain, Kepala Desa Gempolsari, Abdul Harris, mengatakan Desa Ketapang dan Desa Kalitengah tergenang banjir akibat tingginya curah hujan dan meluapnya Sungai Ketapang.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya