Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
CUACA butuk dengan intensitas hujan, gelombang tinggi dan badai terjadi di Laut Jawa, ribuan nelayan di sepanjang Pantura Jawa Tengah berhenti melaut hingga menyebabkan tempat pelelangan ikan (TPI) limpuh serta pelayaran penyeberangan terhenti.
Pemantauan Media Indonesia di Pantura, Kamis (4/2), ribuan kapal nelayan di Pantura seperti Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, Demak, Jepara dan Pati sejak dinihari masih disandarkan di berbagai pelabuhan perikanan dan muara sungai. Akibat intensitas hujan yang tinggi dan badai, nelayan memilih libur melaut dan tidak berani mengambil risiko.
Tidak hanya kapal berukuran kecil dan sedang, kapal ikan berukuran besar seperti porsesine juga menghentikan aktivitas pelayaran. Sementara yang telah berada di laut memilih menyandarkan kapal mereka di pulau-pulau kecil untuk menghindari badai dan gelombang tinggi.
Akibat terhentinya nelayan melaut, tempat pelelangan ikan (TPI) di Pantura lumpuh dan tidak melakukan aktivitas pelelangan.
"Sejak kemarin tidak ada aktivitas pelelangan, karena tidak ada kapal ikan yang membongkar hasil tangkapan," kata Sukrisno,44, pedagang ikan di TPI Pekalongan.
Tidak hanya kapal ikan, kapal penyeberangan penumpang Jepara-Karimunjawa, Semarang-Karimunjawa dan kapal layar motor (KLM) barang
jalur Semarang-Kalimantan juga terhenti sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Kepala Bidang Perhubungan Laut Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Jepara Sutana mengatakan kondisi cuaca yang tiba-tiba memburuk ini menghakibatkan penyeberangan Jepara-Karimunjawa dihentikan. Selain ketinggian gelombang berubah-ubah setiap saat gelombang di Selat Karimunjawa juga cukup tinggi, mencapai 1,5 meter.
Penyeberangan antarpulau tidak berani mengambil risiko, demikian Sutana. Jika gelombang masih di bawah 1 meter, masih memungkinkan, tetapi kondisi saat ini gelombang dapat berubah setiap saat sementara penyeberangan untuk kapal cepat membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan dan kapal feri paling tidak 6 jam perjalanan.
"Yang kita khawatirkan jika di tengah perjalanan tiba-tiba cuaca buruk terjadi badai dan gelombang besar," tambahnya.
Sementara itu Wahyono,48, nelayan di Wonokerto, Pekalongan, mengatakan sudah dua hari ini nelayan terutama dengan perahu kecil dan sedang berhenti total melaut. Bahkan kapal besar juga tidak berani mengambil risiko akibat buruknya cuaca di laut.
Kepala TPI Kota Pekalongan Kasim Sumadi secara terpisah meengatakan akibat kondisi cuaca buruk, nelayan dengan kapal kecil, sedang dan besar tidak melaut, sehingga tidak ada satupun kapal yang membongkar hasil tangkapan menyebabkan TPI lumpuh. "Aktivitas lelang ikan terakhir terjadi pada Selasa (2/2) dengan produksi 34 ton atau senilai lebih Rp500 juta," katanya.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Pekalongan Rasdjo Wibowo mengatakan ribuan nelayan saat ini dalam kondisi paceklik karena tidak dapat mencari ikan, sedangkan yang sudah terlanjut di tengah lautan berdasarkan pantauan terakhir mereka memilih bersembunyi di pulau-pulau kecil di Laut Jawa.
"Setidaknya ada 80 kapal besar yang masih bersembunyi, karena selain menghadapi cuaca hujan, gelombang tinggi dan badai di lautan," kata
Rasdjo Wibowo.
Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang menyebutkan kondisi cuaca Jawa Tengah pada kamis (4/2) pada umumnya berawan dan berpotensi hujan. Kondisi yang perlu mendapat kewaspadaan tinggi adalah wilyah timur yakni Purwodadi, Demak dan Kudus karena berpotensi hujan berintensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang. "Untuk tiga daerah tersebut harap mewaspadai kondisi ini," kata prakirawan cuaca Sugiyarto. (OL-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved