Hujan Batu Landa Lereng Gunung Bromo

Abdus Syukur
29/1/2016 15:13
Hujan Batu Landa Lereng Gunung Bromo
(MI/SUMARYANTO BRONTO)

Aktivitas vulkanik Gunung Bromo, Jawa Timur, terus meningkat. Hal tersebut ditunjukkan dari lontaran material vulkanik yang bukan hanya abu, tapi juga berwujud pasir dan kerikil.

Lontaran material vulkanik berupa pasir dan kerikil dari kawah Gunung Bromo terjadi terus menerus disertai suara letusan dari dapur magma. Lontaran material vulkanik yang cukup kuat ini, menyebabkan terjadinya hujan pasir dan kerikil hingga radius 5 kilometer (km) dan lontaran abu dengan radius lebih jauh.

"Terutama pada radius 2,5 km hingga pojokan hendak meninggalkan lautan pasir, sudah bukan lagi pasir. Lontaran yang dikeluarkan dari kawah sudah berbentuk kerikil yang lebih besar. Makanya saya bersama petugas yang lain, terus menjauhi lautan pasir," kata Kepala Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru (TNBTS), Ayu Dewi Utari, Jumat (29/1).

Material vulkanik berupa pasir dan kerikil itu berukuran 0,2 milimeter (mm) hingga 10 mm. Material berupa kerikil sebaran dalam lingkung kaldera yang meliputi lautan pasir, sabana dan kawah. Sedangkan material pasir, sebarannya sudah lebih jauh hingga pemukiman warga, hingga 5 km dari kawah.

Ditambahkan, meski aktivitas gunung yang terkenal eksotik tersebut terus mengalami peningkatan, statusnya masih tetap siaga dan belum meningkat menjadi awas.

"Status tetap siaga karena lontaran kerikil masih dalam wilayah kaldera radius 2,5 km. Panorama keindahan Gunung Bromo tetap aman untuk disaksikan di lokasi-lokasi aman di Bukit Penanjakan, Bukit Cinta, Bukit Setia dan Ndingklik yang masuk wilayah Kabupaten Pasuruan," imbuh Ayu Dewi Utari.

Asap tebal berwarna coklat pekat terlontar dari kawah Gunung Bromo dengan ketinggian mencapai 1.200 meter atau 3.529 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sedangkan angin berhembus ke timur dan timur laut atau wilayah Kabupaten Probolinggo.

Kepala Pos Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) Gunung Bromo, Ahmad Subhan, mengatakan, terdengar suara gemuruh kuat dari kawah dengan disertai suara dentuman menggelegar. "Terjadi gempa letusan hingga lima kali dari dalam kawah, melontarkan material vulkanik. Makanya terjadi hujan pasir lapili tipis. Sedangkan gempa tremor antara 2-36 mm dominan 8 mm," ujar Subhan.

Dengan arah angin yang berhembus ke timur, warga Tengger di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, bukan hanya merasakan hujan abu. Material vulkanik yang mengguyurnya sudah berupa pasir.

"Sekarang sudah bukan hujan abu lagi, tapi juga pasir dan terjadinya mulai sejak tadi pagi," ujar Suwignyo, warga Desa Ngadirejo, Kecamatan Sukapura. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Widhoroso
Berita Lainnya