Sudah Waktunya Energi Terbarukan

Liliek Dharmawan
25/11/2015 00:00
Sudah Waktunya Energi Terbarukan
(MI/LILIEK DHARMAWAN)
DULU, Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, sempat dijuluki sebagai 'desa bau'. Tidak ada orang yang membayangkan, kini, desa itu mampu menyulap diri menuju desa mandiri energi.

Sebelum 2009, limbah dari Kalisari yang merupakan sentra penghasil tahu, langsung dibuang ke sungai. "Limbah tahu dibuang ke Kali Tengah, sehingga airnya berbau, dan memengaruhi kehidupan ikan. Bau air Kali Tengah menguar tidak hanya di Kalisari, tetapi juga ke desa-desa lain di Kecamatan Ajibarang, hingga radius 10 kilometer," papar Sudarno, 52, warga.

Cerita berubah ketika limbah dari industri tahu diolah, sejak enam tahun silam. Tidak hanya bau di Kali Tengah yang hilang, pencemaran pun dapat dikurangi.

Pengolahan limbah yang kemudian menghasilkan biogas sangat membantu  warga setempat. "Sejak limbah diolah menjadi biogas, saya jadi bisa berhemat. Untuk memasak, saya tidak harus membeli elpiji, setidaknya bisa menghemat Rp60 ribu, karena keluarga biasa menghabiskan 3 tabung elpiji 3 kilogram dalam sebulan," lanjut Sudarno.

Kepala Desa Kalisari Aziz Masruri mengatakan bangunan digester pengolah air limbah sudah dibangun di empat lokasi. Instalasi itu mampu menyerap 5 ton limbah cair yang dibuang oleh 140 rumah industri pembuatan tahu.

Keempat IPAL bisa mengalirkan biogas untuk 226 rumah di desa itu, atau sekitar 25% dari total jumlah keluarga. "Ke depan, kami masih berharap agar pengolahan air limbah tahu terus dikembangkan, karena masih ada 100 industri tahu yang limbahnya belum diolah," tutur Aziz.

Limbah ternak

Tidak hanya di Kalisari. Pengolahan limbah juga dilakukan oleh warga Desa Kesenet, Kecamatan Banjarmangu, Kabupaten Banjarnegara.

Adalah Teguh Haryanto, 35, warga desa, yang menginisiasi pengolahan kotoran kambing dan sapi untuk menghasilkan biogas. "Saya mulai membuat instalasi setelah mendapat pelatihan di Malang, Jawa Timur," tuturnya.

Hanya saja, dalam pelatihan itu terungkap pembuatan instalasi membutuhkan dana Rp30 juta hingga Rp40 juta. Selain itu, jumlah ternak juga harus banyak, di antaranya untuk sapi minimal 10 ekor dan kambing 30-40 ekor.

Awalnya, Teguh sudah tak memiliki harapan, sebab kebanyakan warga di desanya hanya memiliki ternak dengan jumlah sedikit. Selain itu, tidak terbayangkan untuk bisa bisa membuat instalasi dengan dana puluhan juta.

"Tapi, rasa penasaran membuat saya nekat melakukan percobaan. Setelah sembilan bulan melakukan percobaan, akhirnya membuahkan hasil," tambah Teguh.

Di luar dugaan, Teguh ternyata bisa membuat instalasi pengolah limbah menjadi biogas dengan dana hanya Rp3 juta. Ia merekayasa pembuatan digester yang biasanya dicor beton, diganti dengan plastik.

Biayanya lebih murah. Keuntungan lainnya, dengan digester plastik bahan kotoran yang diperlukan untuk diubah menjadi biogas bisa lebih sedikit.

"Mikroorganisme bekerja lebih maksimal. Dengan beton, sepertinya masih ada pori-pori sehingga bisa menjadi rumah mikroorganisme," paparnya.

Temuan Teguh pun ditularkan. Kini di Keneset, sudah ada 42 keluarga yang membuat instalasi pengolahan limbah kotoran, meski mereka hanya memiliki beberapa kambing atau sapi.

"Untuk menghasilkan biogas hanya membutuhkan kotoran dari 4 kambing atau satu sapi. Setelah limbah diolah menjadi biogas, kami juga mendapatkan limbah padat yang bisa digunakan untuk pupuk," jelas Teguh.

Satu warga, pemilik empat kambing atau satu sapi, sudah mampu mandiri pupuk untuk menyuburkan 600 pohon salak. Jika dihitung dengan uang, dia bisa berhemtat sekitar Rp4 juta, karena tidak perlu membeli pupuk dari pabrik lagi.

Kepala Desa Kesenet Sarno mengungkapkan, pengembangan energi terbarukan tersebut telah membawa desa setempat mendapat penghargaan Desa Mandiri Energi tingkat Jateng 2015. "Kami bangga karena ada inisiatif dari warga untuk mengembangkan potensi lokal menjadi energi. Dengan pengolahan limbah tersebut, tidak saja menghemat pengeluaran warga karena tidak lagi membeli elpiji, tetapi petani juga mendapatkan pupuk gratis. Karena itulah, kami bersama warga akan terus mengembangkan energi terbarukan ini," kata Sarno.

Kepala Bidang Energi dan Sumberdaya Mineral, Dinas Pengelolaan Sumberdaya Air (PSDA) dan ESDM Banjarnegara Kun Dharmawan mengungkapkan potensi energi terbarukan di wilayahnya cukup besar. "Inovasi yang ada di Kesenet menjadi satu dari sekian banyak potensi lokal di Banjarnegara yang harus dikembangkan. Pemkab Banjarnegara telah memiliki rencana umum energi daerah (RUED), sehingga rel pengembangan energi akan lebih terarah," ungkapnya.

Banjarnegara merupakan contoh daerah yang memiliki potensi besar energi terbarukan. Pengembangan pembangkit listrik tenaga air, pembangkit listrik tenaga mikro dan pembangkit listrik tenaga mikrohidro, serta pembangkit listrik tenaga panas matahari di Banjarnegara telah menghasilkan listrik hingga 300 megawatt. Padahal, kebutuhan riil listrik di daerah ini hanya 190 Mw lebih.

Hanya saja, rasio elektrifikasi di Banjarnegara baru mencapai 74% atau untuk 276 ribu keluarga. Kondisi itu lebih rendah dari tingkat elektrifikasi se Jawa Tengah yang mencapai 86% dan nasional 84%.

Langit biru Cilacap
Pada bagian lain, pembangunan energi tidak melulu pada sisi energi terbarukan yang merupakan energi masa depan. Penbembangan dengan energi fosil juga terus dilakukan.

Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap, misalnya, sejak Oktober lalu telah mengoperasikan kilang residual fluid catalytic cracking (RFCC). Menurut General Manager Pertamina RU IV Cilacap Nyoman Sukadana pengoperasian RFCC merupakan komitmen PT Pertamina untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat. "Pengoperasian RFCC mampu meningkatkan produksi elpiji hingga lima kali lipat. Jika sebelumnya, produksi elpiji hanya 200 ton per hari, kini telah menjadi 1.000 ton lebih setiap harinya."

Selain itu, RFCC juga menghasilkan high octane mogas component (HOMC) 37 ribu barel per hari serta propylene sebanyak 430 ton per hari.

Ia mengungkapkan pengoperasian RFCC di RU IV Cilacap bakal mengurangi impor dan menghemat devisa negara hingga 5%-6% per tahun. Khusus untuk premium, RFCC mengurangi impor sebanyak 30 ribu barel per hari atau 10,95 juta barel per tahun.

Direktur Pengolahan Pertamina Rachmad Hardadi mengungkapkan bahwa beroperasinya RFCC merupakan awal dari Proyek Langit Biru Cilacap (PLBC) yang diperkirakan rampung pada pertengahan 2018. "Jika sudah rampung, kilang Cilacap tidak hanya akan mengolah 348 ribu barel per hari, tapi meningkat menjadi 400 ribu barel per hari. Produksi yang dihasilkan adalah bensin dengan oktan tinggi atau sekelas pertamax."

Saat ini Indonesia membutuhkan 1,6 juta barel bahan bakar minyak per hari, dengan kapasitas kilang 1,05 juta barel per hari. Hanya saja, pengolahan riil setiap harinya hanya berkisar antara 80%-85%, sehingga kilang dalam negeri hanya menghasilkan 850 ribu barel per hari. Sisanya ditambal dengan impor.

"Karena itu, harus ada percepatan pembangunan kilang dalam refinery development master plan (RDMP). Fase pertama adalah Balikpanan dan Cilacap hingga 2021 dan fase kedua Balongan dan Dumai yang dijadwalkan rampung pada 2023. Di sisi lain, Pertamina juga terus mengembangkan energi terbarukan," tambah Rachmad.

Pengamat energi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Abdul Hamid Budiman menyatakan energi fosil memang masih menjadi bagian penting untuk mencukupi kebutuhan rakyat Indonesia. Namun, pemerintah secara bertahap harus berani meningggalkan energi fosil diganti dengan energi terbarukan.

"Pemerintah telah memiliki roadmap pembangunan energi. Salah satunya adalah meningkatkan produksi energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat," jelasnya.

Namun, jalan menuju kemandirian energi masih panjang. Untuk itu, pemerintah pusat dan daerah harus tetap konsisten dalam pengembangan potensi yang ada. "Potensi energi baru dan terbarukan di daerah cukup banyak, mulai dari air, geothermal, angin, ombak dan lainnya. Pemetaan potensi sangat penting, selain juga menyiapkan sumber daya manusianya," tutur Hamid.

Ia menambahkan badan usaha milik negara yang selama ini bergerak dalam sektor energi juga hartus diajak ikut serta mengembangkan energi terbarukan, seperti yang telah dilakukan Pertamina. Jadi, mau tidak mau, pembangunan energi harus mengacu pada potensi energi terbarukan dan meninggalkan energi fosil setahap demi setahap. Energi terbarukan merupakan pintu masuk menuju kemandirian energi di negeri ini. (N-3)




Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya