Sejumlah sekolah di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau terpaksa meliburkan para siswanya akibat kondisi kabut asap yang kian menebal. Hal itu pun berimbas pada terganggunya aktivitas belajar mengajar.
Kepala SDN 15 Pekanbaru Feliatri mengatakan, bahwa hal seperti itu sudah berlangsung sejak lima tahun belakangan. Artinya kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga sangat merugikan siswa dan guru di sekolah.
"Mau tidak mau anak-anak harus diliburkan karena kami khawatir akan berdampak pada kesehatan mereka. Guru-guru juga mulai ada yang mengeluhkan sesak nafas dan sebagainya," ujarnya kepada Media Indonesia di Pekanbaru, Provinsi Riau, Rabu (2/9).
Berdasarkan instruksi Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pekanbaru dan juga informasi yang terpampang di papan pengumuman sekolah, anak-anak hanya akan diliburkan pada Kamis (3/9). Akan tetapi, hal itu tentu bersifat kondisional mengikuti perkembangan kabut asap.
Guna mengantisipasi ketertinggalan mata pelajaran, setiap siswa diberikan pekerjaan rumah selama masa libur. Kendati, memang belum diketahui hingga kapan kondisinya akan kembali normal.
Sekolah lain yang juga diketahui meliburkan siswanya yaitu SDN 6 Pekanbaru. Malah, siswa kelas 1 sampai kelas 3 sekolah tersebut sudah diliburkan sejak tiga hari lalu.
Melihat kabut asap semakin tebal di sekitar lingkungan sekolahnya, Elmiah, salah seorang guru SDN 6 Pekanbaru juga terpaksa memulangkan para siswa sebelum jam belajar selesai.
"Bagaimana lagi, kelihatannya hari ini yang paling parah. Tetapi meski anak-anak diliburkan, kami para guru akan tetap standby di sekolah," tuturnya.
Ia mengaku hanya bisa berharap agar pemerintah daerah (pemda) setempat agar bisa segera menyelesaikan persoalan karhutla di Provinsi Riau. Terlebih, saat ini Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sudah menunjukkan status tidak sehat.
Puskesmas Simpang 3, Kota Pekanbaru mencatat rata-rata Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) meningkat 30% dibandingkan tahun sebelumnya. Meski belum dihitung secara pasti jumlahnya, tetapi dari rata-rata kunjungan Puskesmas hingga mencapai 200 terdiri dari anak-anak, orang dewasa, dan lansia.
Selain ISPA, penyakit lain yang juga banyak dikeluhkan akibat bersentuhan langsung dengan kabut asap yaitu mata dan kulit.
"Yang paling banyak pasti masalah ISPA. Anak-anak terutama, dihimbau untuk tidak keluar rumah karena efeknya langsung ke pernafasan atas," tandasnya. (Q-1)