Rencana pemerintah Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, akan mengoptimalisasikan Lanud Wiriadinata menjadi bandara komersil terus mengalami progres yang signifikan, setelah PT Dirgantara Aviasi Enginering (DAE) dan Maskapai Aviastar Airline menyatakan kesiapan melakukan pengelolaan bandara tersebut.
"Alhamdulilah akhirnya ada solusi soal pengelolaan yang selama ini menjadi perdebatan, setelah PT DAE sebagai pihak swasta siap melakukan pengelolaan bandara dengan rute perjalanan menggunakan Aviastar Airline," ujar Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi, Kota Tasikmalaya Aay Zaini Dahlan, hari ini.
Program optimalisasi Lanud Wiriadinata menjadi bandara komersil sempat mengalami mandek akibat belum adanya pihak yang sanggup mengelola bandara itu. Meski perijinan untuk membuka bandara komersil itu belum mengantongi ijin dan adanya kesepakatan antara PT DAE dan maskapai Aviastar Airline bandara tersebut akan terwujud.
"Mudahan-mudahan dalam waktu dekat ini bisa segera terlaksana adanya bandara komersil Lanud Wiriadinata akan dikelola oleh PT DAE," paparnya.
Direktur Utama PT DAE Marsma TNI (Purn) Warsito mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi kerjasama ini dengan pemerintah Kota Tasikmalaya dalam mengelola bandara komersil hingga rencana menjadikan Lanud Wiriadinata menjadi bandara plus sebagai tempat sekolah pilot dan bandara komersil.
"Untuk proses perijinan akan berupaya menyakinkan pemerintah pusat salah satunya dengan merevisi legalitas PT DAE sebagai sekolah pilot menjadi bandara komersil Lanud Wiriadinata dan kami akan mengirimkan surat kepada Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) dan nantinya Kasau akan mengirimkan surat kembali kepada Kementerian Perhubungan berkaitan, agar perijinan PT DAE mengelola bandara komersil Lanud Wiriadinata bisa terlaksana," katanya.
Selain itu, Komisaris Utama PT Aviastar Mandiri, Sugeng Triono mengatakan dirinya akan mengoptimalkan kerjasama dengan PT DAE mulai dari Jadwal pemberangkatan akan dilakukan satu minggu 2 kali penerbangan. Karena bandara komersil Lanud Wiriadinata lebih baik mengoptimalkan satu maskapai penerbangan terlebih dahulu.
"Bila sudah ramai, kuantitas penumpang juga semakin banyak maka bisa ditambah maskapai lain agar tidak adanya rebutan penumpang dibandara yang sedang tumbuh," ungkapnya. (Q-1)