Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 melahirkan spirit persatuan yang terjaga hingga HUT ke-70 RI pada 2015 ini. Semangat itu mengilhami Menpar Arief Yahya saat menjadi pembicara kunci di seminar Nasional Exploring Wonderful Indonesia di Grand Aston City Hall, Medan, 28 Agustus 2015. Misinya sama: bersatu untuk mewujudkan Danau Toba sebagai geopark kelas dunia.
Mantan Dirut PT Telkom Indonesia ini melihat problem paling mendasar menghidupkan pariwisata Toba adalah kekompakan, satu visi, satu komando, satu tujuan dan satu spirit bersama-sama. Hanya itu yang bisa menyulap destinasi Toba sebagai destinasi kelas internasional, dengan segala potensi keindahan, alam, sejarah, lengkap dengan tradisinya. "Karena itu, saya berterima kasih, akhirnya tujuh bupati kompak dan menandatangani kesepakatan bersama! Ini adalah fondamen yang terkuat menuju konsep arsitektural Toba secara utuh ke depan," sebut Menpar.
Tujuh bupati yang meneken itu adalah Bupati Samosir, Bupati Dairi, Bupati Toba Samosir, Bupati Humbang Hasudutan, Bupati Simalungun, Bupati Tapanuli Utara, dan Kabupaten Karo.
Tiga poin kesepakatan di selembar surat bermeterai Rp6.000 itu antara lain: Pertama, mendorong pembangunan destinasi pariwisata berbasis geopark dari proses perencanaan, penyelenggaraan, peningkatan kualitas destinasi pariwisata berkelanjutan, konservasi SDA dan promosi.
Kedua, mendorong geopark Toba Kaldera Toba sebagai anggota Global Geopark Network UNESCO. Ketiga, mengalokasikan anggaran secara proporsional untuk pembangunan pariwisata.
"Ini adalah critical success factor! Saya ingat legenda strategi perang Tzun Su yang mengajarkan bahwa musuh utama kita bukan kekuatan persenjataan lawan, atau jumlah pasukan lawan. Tetapi persatuan dan kekompakan kita sendiri," jelas Menpar.
Menpar pun yang mendorong lahirnya kesepakatan tujuh kabupaten itu. Dia juga berterima kasih kepada Bupati Samosir Mangindar Simbolon yang getol menghidupkan pariwisata di Toba.
"Musuh" berikutnya adalah target pariwisata yang harus bisa dikuantifikasi, dihitung dengan angka yang konkret. Ini penting, agar tahu harus berstrategi apa? Harus memulai darimana? Dengan cara apa? Tahun 2014, kedatangan wisman di Toba hanya 200 ribu orang. Sedangkan wisnus 800 ribu. Angka itu terlalu kecil jika dibandingkan dengan target nasional 20 juta wisman, dan 275 juta wisnus, dengan kelas Danau Toba yang amat tersohor dan sarat legenda itu.
"Karena itu, dengan sedikit memaksa, Toba kita targetkan 1 juta wisman dan 5 juta wisnus di tahun 2019. Dengan kondisi itu, maka kontribusi terhadap PDB (product domestic bruto) naik dari US$2 miliar menjadi US$ 9,6 miliar. Devisa yang diraih bisa naik dari US$ 240 juta menjadi US$ 2,4 miliar. Kontribusi terhadap kesempatan kerja naik dari 80 ribu menjadi 300 ribu. Saya yakin dengan perputaran uang sebesar itu di Toba, masyarakat di tujuh kabupaten ini akan sejahtera," jelas Menpar
Lalu apa konsep pengembangan destinasinya? "Ingat 3A: Atraksi, Aksesibilitas dan Amenitas! Harus ditemukan atraksi yang paling heboh di Toba yang mengekspose danau terbesar di Indonesia itu sebagai Geosite dan Geopark, seperti Festival Danau Toba dan International Sport Tourism," katanya.
Kedua, aksesibilitas dikebut, tahun 2015 ini sudah direncanakan merekonstruksi struktur jalan Silimbat-Siborong Borong-BTS. Kota Tarutung 10 km, jalan Kota Tarutung 1,4 km, Siantar-Silimbat 1 km, BTS Kab Simalungun-Silimbat 7,6 km, Silimbat-Kab Tapanuli Utara 2 km, jalan seksi Lau Lisang 0,5 km. Lalu peningkatan kualitas bandara Kualanamu, Silangit, Sibisa dengan konsep perpanjangan runway. Juga rehabilitasi dermaga 2015, Mogang Palipi, Meat, Simanindo, Tiga Ras, P Sibandang.
Ketiga, amenitas dengan pengelolaan kawasan pariwisata terpadu. Misalnya dengan Badan Pengelolaan Kawasan Pariwisata Terpadu Toba Berbasis Geopark (Badan Pengelolaan Toba) dan KEK Pariwisata. "Tiga A itu dibangun untuk menjaga nilai competitiveness (daya saing), dan sustainability (keberlangsungan).
Lalu apa quick wins-nya di tahun 2015? Dari destinasi dan industry, sudah deprogram bulan Desember 2015, pengusulan Geopark, etalase Geopark, dan Tata Kelola Destinasi. Dari sisi pemasaran, juga akan ada promosi Sumatra Utara, Festival Danau Toba, dan International Sport Tourism. Sedangkan dari kelembagaan dan regulasi, akan ditetapkan melalui SK Menteri tetang pengelolaan kawasan pariwisata terpadu. Lalu akan diperkuat dengan Keppres-nya, dan SK Menteri tentang Penetapan Toba sebagai daerah tujuan wisata nasional. "Semua urusan kelembagaan itu akan dituntaskan di akhir 2015 ini!" tegas pria yang pernah dinobatkan sebagai CEO BUMN Inovatif Terbaik Anugerah BUMN Award 2012.
Sementara itu, Dirjen Imigrasi Ronny Sompie menegaskan kembali komitmennya membantu pariwisata dalam menjaga regulasi Bebas Visa Kunjungan (BVK). Ada 15 negara yang berdasarkan Peraturan Pemerintah No 18 tahun 2003 bebas masuk ke Indonesia tanpa visa, cukup dengan passport, terutama negara-negara ASEAN. Lalu berdasarkan Peraturan Pemerintah No 69 tahun 2015, dibuka 30 negara yang bebas masuk tanpa visa untuk kepentingan pariwisata. (R-1)