Bali Tolak Impor Daging Sapi

Arnoldus Dhae
14/8/2015 00:00
Bali Tolak Impor Daging Sapi
(ANTARA/Nyoman Budhiana)
Harga daging sapi di Indonesia melambung tinggi beberapa hari terakhir. Pedagang di berbagai daerah yang prihatin dengan harga tersebut melakukan aksi mogok.

Kepanikan publik meluas, termasuk pemerintah. Celakanya, pemerintah lagi-lagi menempuh cara instan untuk mengatasinya. Rencananya, pemerintah akan mengimpor 50.000 sapi dari Australia untuk mengatasi kelangkaan daging sapi dan membendung harga tinggi tersebut.

Rencana mengimpor sapi itu mendapat penentangan dari berbagai kalangan. DPRD Bali juga menyatakan penolakannya.

Wakil Ketua DPRD Bali I Nyoman Sugawa Korry mengatakan kenaikan harga daging sapi tak berpengaruh negatif terhadap masyarakat kecil, karena mereka justru mengalihkan kebutuhan daging sapi ke daging ayam, ikan, dan lain-lain.

"Yang artinya meningkatkan permintaan terhadap konsumsi daging ayam, ikan, dan lain-lain. Itu positif untuk pemberdayaan ekonomi rakyat," ujar Sugawa Korry di Denpasar, Jumat (14/8).

Menurut Sugawa Korry, jika impor daging sapi dibuka justru akan menguntungkan importir, industri besar dan masyarakat kelas menengah ke atas, tapi merugikan jutaan peternak sapi. Menurut dia, biarkan keseimbangan pasar (harga daging sapi) dibentuk oleh kekuatan produksi dalam negeri.

"Hentikan impor daging sapi. Biarkan keseimbangan (equilibrium) harga daging sapi dibentuk oleh peningkatan produksi dalam negeri (dipasok oleh peternak sapi dalam negeri), bukan membuka keran impor," tegasnya.

Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Buleleng itu mengatakan jika pemerintah mengeluarkan kebijakan mengimpor daging sapi untuk mengatasi kenaikan harga, itu merupakan kebijakan yang sangat keliru.

"Kenaikan harga daging sapi justru berpengaruh positif terhadap pemberdayaan ekonomi rakyat melalui peningkatan kesejahteraan para peternak di pedesaan. Mestinya pemerintah menjawab (mengatasi kenaikan harga daging sapi) bukan dengan buka keran impor tetapi dengan kebijakan mendorong peningkatan produkdi sapi di dalam negeri melalui produksi peternak di pedesaan," ujarnya.

Politikus senior Partai Golkar ini justru mengingatkan semua pihak, termasuk pemerintah untuk mewaspadai adanya rekayasa mafia dan kartel impor daging sapi yang sengaja menciptakan kelangkaan daging sapi untuk memicu harga tinggi sehingga pemerintah membuka keran impor.

"Karena itu pemerintah harus mencari tahu akar persoalan sebenarnya yang menyebabkan terjadinya kenaikan harga daging sapi. Apakah ada permainan mafia dan kartel impor daging sapi. Sebab, mereka ini yang dirugikan jika pemerintah menutup keran impor daging sapi," pungkas Sugawa Korry.

Sebagaimana diketahui, belum lama ini pemerintah melalui Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel (yang baru saja dicopot), Presiden Jokowi) telah menandatangkan izin impor 50.000 sapi dari Australia. Diperkirakan setelah dua pekan mendatang, daging sapi asal Australia itu akan membanjiri pasar dalam negeri. Namun menariknya, kedatangan ribuan sapi asal Australia itu tidak segera menurunkan harga sapi dalam negeri.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya