PENDIDIKAN Bahasa Indonesia, terutama yang dilakukan di tingkat sekolah dasar dinilai belum berhasil. Indikasinya, level literasi para siswa masih rendah. Guru besar ilmu linguistik Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS), Riyadi Santosa mengungkapkan tingkat literasi anak didik di SD hanya pada level 3. Sementara Malaysia dan Thailand sudah masuk level 4 dan 5. Singapura bahkan sudah masuk ke level 6 yang merupakan level tertinggi.
Rendahnya level literasi menyebabkan rendahnya kemampuan siswa untuk merepresentasikan dan memproduksi ilmu pengetahuan sebagai tujuan akhir pembelajaran bahasa. Hal itu menghambat program pemerintah untuk segera meningkatkan sumber daya bangsa ini melalui pendidikan.
Riyadi Santosa yang telah 22 tahun berkecimpung dalam bidang linguistik itu melihat penyebab utamanya adalah model pembelajaran. Materi yang diberikan selama ini lebih banyak berkutat pada persoalan tata bahasa. "Semestinya belajar bahasa adalah belajar literasi. Belajar bahasa tidak sekadar baca dan tulis, tetapi bagaimana dengan bahasa itu anak didik mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapi sehari-hari," tegasnya.
Anak didik, lanjutnya, bukan hanya menyerap, tetapi juga mampu mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal itu dilakukan melalui pendekatan yang bersifat holistik, berorientasi pada proses dan produk. Siswa memiliki akses ke dalam keanekaragaman teks, baik yang kontinyu dan nonkontinyu dengan genre yang berbeda-beda.
"Intinya siswa dibantu mengidentifikasi, berlatih, dan memproduksi ilmu pengetahuan, sehingga aquisition berjalan. Di dalam kurikulum 2013 dikenal sebagai permodelan, membangun teks bersama dan membangun teks mandiri," tandasnya. (N-3)