KONSTELASI politik jelang Pilkada di Kalimantan Selatan semakin panas. Sejumlah partai besar justru mengabaikan kader partai dan lebih memilih mencalonkan figur dari luar partai.
Sejumlah partai besar di Kalsel seperti Partai Gerindra, PKS dan PPP telah memastikan diri mengusung calon Gubernur-Wakil Gubernur non kader partai. Pasangan calon yang diusung ketiga partai ini adalah Shabirin Nor dan Rudy Resnawan.
Kondisi ini berbeda dengan pilkada sebelumnya. Partai-partai besar mengusung kader-kader terbaiknya. Akademisi Universitas Lambung Mangkurat, Prof Hadin Muhjad mengatakan fenomena politik saat ini menunjukkan fungsi partai tidak berjalan maksimal.
"Partai itu seharusnya menjalankan fungsinya untuk merekrut dan mencetak kader yang dipersiapkan menjadi calon pemimpin. Partai juga harus didukung sumber daya finansial dan sumber daya manusia yang berkualitas," ungkapnya.
Kelemahan finansial dan ketiadaan kader berkualitas menyebabkan partai mengambil jalan pragmatis dan cenderung menjalankan politik transaksional. Meski tidak bisa disalahkan, namun kebijakan partai yang transaksional dan tidak mengedepankan figur berkualitas, maka akan berpengaruh pada masa depan daerah itu sendiri nantinya.
"Masyarakat sebagai pemilih harus cerdas dalam memilih calon kepala daerah, karena akan berdampak pada masa depan daerah," ucapnya.
Idealnya partai mengusung kader utamanya untuk menempati posisi kepala daerah atau wakil kepala daerah. Apalagi elektabilitas dan komposisi perolehan kursi terpenuhi.
Kader non partai Partai Golkar, misalnya, dengan perolehan 13 kursi mestinya mampu untuk mengusung kader sendiri sebagai calon gubernur. Untuk PPP, Partai Gerindra, PKB dan PDI-Perjuangan mempunyai kans besar untuk menghantarkan kadernya minimal sebagai calon wakil gubernur, karena harus berkoalisi dengan partai lain untuk memenuhi kuota minimal 11 Kursi.
Ketua DPWP KS Kalsel, Ibnu Sina, saat ditemui di Bandara Syamsuddin Noor, Banjarmasin, enggan berkomentar banyak terkait penetapan partainya mengusung Shabirin Nor-Rudy Resnawan. Pasangan ini dikenal dengan salam jari kelingkingnya. "Untuk calon gubernur-wakil gubernur sudah pasti Paman Birin, jangan dibahas lagi. Ibaratnya kelingking itu bisa mengalahkan jempol," tuturnya singkat.
Ibnu Sina juga enggan menjelaskan alasan dan pertimbangan partai terkait penetapan calon tersebut. "Kalau soal kader tentunya PKS punya, tetapi kita tutup saja pintu debat untuk hal itu," sambungnya.
Kini PKS lebih fokus dalam seleksi calon bupati dan wali kota. Sekretaris DPW PPP Kalsel, Asbullah mengatakan situasi politik dan masalah internal partai menyebabkan partai berlambang Ka'bah ini mengusung calon non kader dalam pilkada. "Kita bukan mengabaikan kader partai. Sebenarnya PPP punya kader salah satunya Aditya, Ketua DPW PPP Kalsel, tetapi terbentur aturan yang melarang dirinya maju pilkada. Jadi partai memilih jalan tengah dan aman," ucapnya.
Syaifullah Tamliha, Wakil Sekjend PPP yang kini duduk di DPR-RI, secara terbuka memberikan peringatan kepada partainya agar mencalonkan kader internal. "Jika PPP Kalsel mencalonkan partai di luar kadernya maka patut diduga telah terjadi politik transaksional," tandasnya dalam acara dialog publik yang digelar KNPI Kalsel, beberapa waktu lalu. (N-3)