Masalah gizi buruk menjadi kekhawatiran tersendiri di Provinsi Nusa Tenggara Timur menyusul kekeringan yang mulai menggagalkan panen di beberapa daerah. Masalah gizi buruk ini bahkan merenggut nyawa 11 balita di Kabupaten Timur Tengah Utara dalam rentang lima bulan terakhir.
Wakil Presiden Jusuf Kalla yang sedang berada di Kupang untuk menghadiri peringatan Hari Koperasi Nasional 2015 menanggapi hal ini. Kata dia, ada kesalahan persepsi yang dimiliki masyarakat luas tentang konsep gizi buruk.
JK mengaku telah menerima laporan dari Gubernur NTT Frans Lebo Raya. Kekeringan memang bukan barang baru untuk provinsi itu.
"Tadi saya dijelaskan Gubernur bahwa sejak dulu ada kekeringan sehingga ada penurunan produktivitas. Orang kadang-kadang salah persepsi dari luar, di sini orang makan jagung dikira gizi buruk padahal anda tahu semua disini jagung kan biasa (sebagai makanan pokok)," kata JK di Rumah Jabatan Gubernur NTT, Kupang.
Namun, jika kekurangan pangan memang terjadi, pemerintah akan langsung turun tangan dengan menggelontorkan cadangan beras yang dimiliki. JK menjamin, pemerintah akan mengeluarkan beras untuk membantu menghilangkan gizi buruk di masyarakat. "Berapapun kalau kekurangan kita kasih soal gizi buruk itu," tegas JK.
Pemerintah, kata dia, akan memberikan makanan pokok dalam bentuk raskin. Selain itu, akan ada bantuan khusus yang diberikan pemerintah kepada masyarakat yang menderita gizi buruk.
"Kita jamin itu tidak akan terjadi," pungkas JK.
Diketahui, Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merilis data bahwa 11 balita di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) meninggal dunia akibat gizi buruk dalam rentang waktu lima bulan. Gizi buruk ini sebagai imbas gagal panen di daerah tersebut.(Q-1)