Rekonstruksi, Engelina Dibunuh di Kamar Margriet

Arnold Dhae
06/7/2015 00:00
 Rekonstruksi, Engelina Dibunuh di Kamar Margriet
(ANTARA/FIKRI YUSUF)
SETELAH melakukan rapat singkat antara penyidik dan kuasa hukum kedua tersangka, rekonstruksi pembunuhan gadis kecil Engelina digelar. Rekonstruksi dilakukan oleh tersangka Margriet dan Agus di rumah ibu angkat Engelina di Denpasar, Bali, Senin (6/7). Rekonstruksi juga melibatkan saksi Susiani dan Rahmat Handono yang kebetulan tinggal di kos-kosan milik Margriet.

"Saat ini rekonstruksi yang melibatkan dua saksi yakni Susiani san Handono sudah selesai. Kedua saksi itu sudah meninggalkan lokasi kejadian. Sekarang mereka berangka kerja dulu. Nanti kalau ada yang melibatkan mereka maka akan dipanggil lagi," ujar pendamping dari Pusa Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar Siti Sapura yang menyaksikan langsung rekonstruksi.

Menurutnya, reskonstruksi itu baru sebatas adegan yang terjadi di tanggal 16 Mei 2015 saat Engeline dibunuh.

Agus berperan bekerja di kandang ayam seperti biasa, sementara Engeline membersihkan kandang ayam sebagaimana rutinitas dia dan memberi makan ayam.

Kemudian Agus mendengar Margriet berteria-teriak memanggil Engeline. Engeline masuk ke dalam kamar. Terus Agus mendengar teriakan Engeline "Mama, ampun Mama".

Selang beberfapa saat kemudian Margriet berteriak panik dengan menyebut nama Engeline.

Setelah itu Agus dipanggil ke dalam kamar. Ia melihat Engeline sudah tergeletak tak berdaya di kamar Margriet.

Agus bertanya, "ini kenapa lagi". Margriet membentak Agus dan menyuruh Agus diam dan melakukan saja apa yang disuruh.

Margriet menyuruh Agus memperkosa Engeline tetapi ditolak. Kemudian Margriet menyuruh Agus membuka baju dan celananya untuk dibungkus bersama tubuh Engeline. Margriet menyuruh Agus mengambil sprei dan membungkus jenazah Engeline.

Di mana peran pembantu pada tanggal 16 Mei?. Tenyata Margriet memesan kepada Agus, bila Handono dan Susiani datang, Agus disuruh pura-pura bertanya "apakah keduanya melihat Engeline. Saat Handono dan Susiani tiba di rumah, Agus pun melakukan seperti apa yang diperintahkan Margriet.

Margriet menolak perankan adegan

Rekonstruksi itu tidak diperankan sendiri oleh Margriet. Menurut pengacara Agus, Hotman Paris Hutapea, dalam memerankan adegan, Margriet diganti oleh penyidik perempuan atau polwan.

"Sekalipun dia tidak memerankan adegan, dia ada di lokasi, dia senyum-senyum. Dan kelihatan dia setuju dengan seluruh adegan yang diperankan oleh pemeran pengganti," ujarnya.

Hotman Paris menegaskan seluruh adegan rekonstruksi itu bersumber dari keterangan Agus dalam BAP. Hal itu berarti penyidik meyakini pelaku utama pembunuhan adalah Margriet.

Dalam adegan saat Agus dipanggil ke kamarnya, sempat terjadi pertengkaran antara Magriet dan Agus.

"Agus berteriak ke arah Margriet dengan mengeluarkan kata-kata "pembohong kau" karena Margriet menyangkal apa yang diperankan tersebut. Agus berteriak pembohong sambil membanting salah satu tiang rumah," ujar Hotman Paris.
Pertengkaran itu terjadi karena Margriet menyangkal jika saat Agus dipanggil ke kamar, posisi Engeline sudah tergeletak tak berdaya. Sementara menurut Margriet, dia tidak melakukan hal itu. Padahal Agus melihat sendiri saat Margriet menjambak rambut Engeline dan membantingnya ke lantai hingga Engeline tidak bergerak.

Kematian Engeline tampak pada adegan ke-50 sampai 60. TKP-nya di kamar Margriet. "Penyidik yakin pelaku utama adalah Margriet. Sesuai adegan rekonstruski adalah Margriet. Tidak ada sedikit pun pembunuhan dilakukan oleh Agus. Penyidik hanya akan memakai keterangan Agus, sebagai bahan rekonstruksi," ujar Hotman.

Sementara saksi Handono mengaku peran yang melibatkan Agus sudah sesuai keterangan.

"Adegannya disuruh berpura-pura tanya ke Handono, apakah mengetahui ke mana perginya Engeline," ujarnya.

Kemudian datang anak Margriet, Yvonne, sore harinya. Itulah sebabnya Yvonne juga terlibat di rekonstuksi. Perannya diganti oleh anggota penyidik. "Dia ada di sekitar TKP. Dua saksi Susiani dan Handono, membenarkan kesaksian Agus," ujarnya.


Sesuai hasil autopsi

Sementara itu, Kepala Instalasi Forensik RSUP Sangla Denpasar dr Dudut Rustyadi mengatakan, pihaknya hadir di lokasi rekonstruksi sebagai pengamat dari Instalasi Forensik RSUP Sanglah.

Dari hasil pengamatannya, adegan yang diperankan sudah sesuai dengan penyebab kematian Engeline sebagaimana hasil autopsi yang dilakukan timnya dari Instalasi Forensik RSUP Sanglah Denpasar.

"Saya datang sebagai pengamat. Saya tidak mau berkomentar soal adegan yang diperankan oleh tersangka yang mana. Namun yang pasti, dari adegan yang diperankan yang menyebabkan kematian Engeline sesuai hasil autopsi yakni terjadi pendarahan di kepala," ujarnya saat ditemui di TKP, Senin (6/7).

Ia memastikan banyak kesesuaian antara rekonstruksi dan hasil forensik yang dilakukannya.

"Dari pengamatan kami, memang ada kesesuaian antara hasil autopsi yang menyebabkan kematian dengan adegan yang diperankan oleh pelaku," ujarnya.

Dudut mengaku sengaja diundang penyidik untuk memastikan kesesuaian peran yang diperagakan tersangka dengan luka yang dialami Engeline.

"Kami mengikuti rekonstruksi menyaksikan apakah ada kesesuaian dari peran yang diperagakan dengan luka di tubuh korban," kata Dudut.

Dari hasil pengamatannya, kesesuaian adegan dengan luka korban utamanya kala kepala bocah mungil Engeline dihantamkan ke tembok dan lantai.

"Ada adegan kekerasan. Kekerasan dipukul di kepala yang menyebabkan pendarahan di otak. Kita sesuaikan dengan hasil autopsi," katanya.

Tak hanya Forensik RSUP Sanglah Denpasar, pihak kejaksaan juga dihadirkan untuk melihat langsung jalannya rekonstruksi. Sayang, dari empat orang jaksa yang disebut-sebut bakal menjadi penuntut umum dengan tersangka Margriet dan Agus itu tak mau banyak berkomentar.

"Kami hanya diundang menyaksikan jalannya rekonstruksi," kata seorang jaksa bergegas pergi. (Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya