Kearifan Bonokeling, Penjaga Mahakarya

Liliek Dharmawan
29/6/2015 00:00
Kearifan Bonokeling, Penjaga Mahakarya
(MI/LILIEK DHARMAWAN)
SEJUMLAH lelaki dan perempuan, berjalan kaki menembus panasnya hari,  Kamis dua pekan lalu. Dari Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mereka menuju ke Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Banyumas.

Jarak 30 kilometer itu dilahap dengan berjalan kaki. Mereka harus melakukannya, karena keesokan hari, komunitas itu mengikuti ritual ziarah kubur di Kompleks Makam Bonokeling.

Warga ini adalah kaum adat Bonokeling yang hendak menggelar ritual budaya Unggah-unnggahan. Biasanya dilangsungkan Jumat terakhir menjelang bulan puasa. Prosesi pada bulan Sadran menurut kalender Jawa tersebut, adalah upaya untuk bebersih diri.

Ini adalah prosesi budaya terbesar yang dilakukan kaum adat Bonokeling dalam setahun. Pesertanya lebih dari 1.000 orang. Mereka juga bertemu dengan sesama para anak cucu Bonokeling lainnya, untuk tetap menjalin kekerabatan agar tetap kuat dan rekat.

Dalam ritual yang dijalankan, setiap orang mendoakan para leluhur, meminta restu, serta minta maaf kepada para sesepuh yang masih hidup.

"Dalam Unggah-unggahan, hampir seluruh kaum adat Bonokeling berkumpul di sini. Mereka berasal dari Cilacap dan Banyumas," kata Miswan, 58, salah satu warga adat Bonokeling.

Gotong Royong
Kaum Bonokeling adalah salah satu komunitas yang masih tegas mempertahankan budaya mereka, salah satu mahakarya Indonesia yang tak lekang waktu hingga kini. Kekayaaan budaya itu bukanlah sebuah bangunan yang mentereng, melainkan ajaran untuk saling berbagi, bergotong-royong dan menjaga kekerabatan.

"Tanpa ada gotong-royong, mustahil ritual budaya dapat terselenggara sepanjang tahun. Pada setiap gelaran ritual, kami harus saling berbagi peran dan bergotong-royong. Itulah ajaran nenek moyang yang kami lakukan secara turun temurun," tambah Miswan.

Tetua adat Bonokeling yang disebut Bedogol Bonokeling, Sumitro, mengungkapkan, untuk menggelar Unggah-unggahan, seluruh warga Bonokeling harus bergotong-royong menyiapkan makanan. Mereka membawa hasil bumi dari rumah masing-masing untuk dimasak bersama.

"Untuk membeli kambing, kami iuran Rp20 ribu per rumah tangga. Tidak pernah ada paksaan. Warga memberikan uang dan hasil bumi dengan kesadaran dan keikhlasan," lanjutnya.

Tidak ada pembedaan, baik petani, karyawan, pegawai negeri atau perangkat desa. Semuanya sama saja. "Karena kami sama dan sejajar. Sama-sama anak cucu Bonokeling," tegas Sumitro.

Budaya tidak saling membedakan antarsesama itu menguatkan sikap gotong royong yang sejak ratusan tahun lalu terpelihara hingga kini. Kegotongroyongan menguatkan kekerabatan, begitu juga sebaliknya kekerabatan yang rekat memunculkan saling peduli yang muaranya adalah saling bantu membantu dan peduli. Tanpa pembedaan.

Kearifan kelola pangan
Kegotongroyongan juga terejawantahkan dalam pengelolaan pangan. Menurut Sumitro, kaum adat Bonokeling yang berada di 23 RT di Desa Pekuncen, Jatilawang, ini terus mempertahankan stok pangan dalam kondisi paceklik sekalipun.

"Kami tetap mempertahankan lumbung pangan sebagai tempat penyimpangan gabah hasil panen. Meski desa lain sudah tak lagi memiliki, lumbung di sini tetap terisi," ungkap Sumitro Warga Bonokeling menyadari keberadaan lumbung sangat penting saat paceklik datang. Warga tidak bakal bingung dengan soal pangan. "Di lumbung, kami memiliki simpanan antara 1,5 ton hingga 5 ton," lanjut Sumitro.

Setiap panen datang, seorang warga Bonokeling menyisihkan sekitar 50 kilogram hingga 1 kuintal gabah. Gabah disimpan ke dalam lumbung. Saat paceklik datang, gabah bisa dipinjamkan kepada warga yang membutuhkan. Jika ada yang meminjam, mereka harus mengembalikan bersama bunganya sebesar 20%. Kalau meminjam 1 kuintal berarti mereka harus membayar bunga 20 kilogram. Hanya saja, waktu pengembaliannya tidak kaku, menyesuaikan dengan masa panen.

Bunga hasil pinjaman, lanjut Sumitro, dapat digunakan untuk bantuan saat komunitas ini menggelar ritual tertentu. Pun dari bunga pinjaman lumbung pangan, dananya dapat dipakai untuk membangun gedung pertemuan.

"Hampir seluruh RT telah memiliki gedung pertemuan yang dananya diambilkan dari bunga simpan pinjam gabah," tambah Sumitro.

Gabah dipilih karena dia lebih tahan lama dibanding beras.

Upaya lain mengatasi paceklik ialah menanam singkong untuk menjadi makanan alternatif. Singkong diolah menjadi oyek. Makanan ini jika benar-benar kering bisa bertahan hingga beberapa bulan.

Riset Bonokeling
Kearifan lokal yang masih hidup di komunitas adat Bonokeling merupakan mahakarya Indonesia yang harus terus dijaga keberlangsungannya. Menyadari hal itu, Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tengah melakukan riset mendalam mengenai keberadaan, adat istiadat dan kearifan lokal kaum adat Bonokeling.

"Kami telah melakukan penelitian terhadap kaum adat Bonokeling sejak April lalu. Kami mencoba menelusuri apa saja nilai-nilai budaya yang ada pada komunitas yang berada di Jawa Tengah selatan ini," kata peneliti dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta, Sukari.

Ia mengungkapkan, meski belum selesai melakukan riset, namun masih tetap ada kearifan lokal yang tetap relevan terhadap perkembangan zaman. Bahkan, saat zaman berubah, mereka masih mempertahankannya.

Ada beberapa nilai budaya penting yang tetap ditanamkan kepada anak cucu Bonokeling. Yakni kejujuran, hormat kepada orang lain dan tidak merendahkan orang lain. Yang tidak kalah penting adalah kekerabatan
mereka yang tetap erat, sehingga memunculkan semangat gotong royong antarwarga. Namun, mereka juga tetap terbuka dengan warga di luar komunitas adat Bonokeling. Mereka juga dapat hidup bersama, bertoleransi dengan penduduk lain.

Meski jumlah anggota komunitasnya sedikit, bukan berarti mereka kemudian tertutup. Mereka tetap membuka diri terhadap kemajuan yang ada. "Namun, mereka memiliki filter kuat sehingga kearifan lokal tetap terjaga," tandas Sukari. (N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya