Meraup Untung dari Limbah Kayu

Ferdinand
23/6/2015 00:00
Meraup Untung dari Limbah Kayu
(ILUSTRASI--ANTARA/Ari Bowo Sucipto)
LIMBAH kayu. Apa yang terlintas di pikiran kita saat mendengarnya?

Barang yang satu itu, Kalau tidak dijadikan kayu bakar tentu dibuang, karena dianggap tidak berguna lagi.

Padahal, dengan sentuhan kreativitas, limbah kayu bisa menjelma menjadi produk bernilai ekonomis dan menguntungkan. Slamet Widodo, 49. warga Desa Brangkal RT 16 RW 08, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, telah membuktikannya.

Kreativitasnya mengolah limbah kayu telah menghasilkan omset ratusan juta rupiah. Pelanggannya tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri, di antaranya dari Turki dan Iran. Dua negara di kawasan Timur Tengah itu rutin mengimpor miniatur motor Harley Davidson dan mobil kuno.

"Tapi jumlahnya belum terlalu besar," kata Slamet, merendah saat menerima kunjungan Tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Sebelas Maret Surakarta (LPPM UNS) belum lama ini.

Slamet menuturkan, pesanan dari Turki baru sebanyak satu kontainer per tahun dengan nilai Rp150 juta. Sementara, untuk Iran, dua kali setahun dengan nilai pengiriman Rp60 juta per kiriman.

Selain Turki dan Iran, Slamet juga pernah mengekspor produknya ke negara-negara Eropa. Namun, jumlahnya tidak terlalu besar dan belum rutin seperti halnya ke dua negara tersebut.

Modal Awal Rp5 juta
Slamet merintis usahanya sejak akhir 1997 dengan modal awal Rp5 juta.

Ia tertarik menggeluti usaha ini setelah berjalan-jalan di Malioboro, Yogyakarta dan melihat pedagang miniatur kendaraan berbahan kayu di sana.

"Saya berpikir usaha ini prospektif juga, kenapa tidak dicoba" kenangnya.

Pulang ke desa, Slamet segera mewujudkan niatnya. Untuk menghemat modal ia menggunakan bahan baku limbah kayu apkiran pabrik mebel dan furnitur. Sedangkan disainnya ditiru dari mainan plastik.

Produksi awalnya hanya berupa miniatur sepeda motor Harley Davidson dan mobil kuno. Jumlahnya pun hanya ratusan, yang dipasarkan di seputaran Candi Prambanan. Tidak dinyana ternyata produk buatan Slamet mendapatkan respon yang cukup bagus di pasaran.

Sejumlah konsumen menyebut kualitas produk karya Slamet bagus. Sejak awal Slamet memang berprinsip tidak mau membuat produk asal-asalan. Oleh karena itu bahan baku yang digunakan dipilihnya yang bagus, yakni kayu mahoni dan sonokeling.

Proses pembuatan dilakukan sebaik mungkin, detail dan halus. Sejak itu, pesanan demi pesanan mulai berdatangan.

Slamet memutuskan untuk menambah kapasitas produksinya dengan mempekerjakan warga di sekitar kediamannya. Ia pun kemudian menyewa gedung bekas sekolah dasar yang ada di pinggir desa dan menjadikannya sebagai bengkel kerja.

Produk yang dihasilkan pun semakin beragam. Menurut Slamet saat ini ada 60 jenis produk yang dibuat.

Selain miniatur mobil, sepeda motor, pesawat terbang kuno, dan perahu pinisi, ada juga ada produk fungsional, seperti tempat payung, tempat Alquran, tempat air minum dalam kemasan, dan jam dinding.

Slamet berharap pendampingan yang dilakukan Tim LPPM UNS bisa membuat

usahanya lebih maju lagi. Apalagi sekarang dia telah difasilitasi website untuk melakukan pemasaran secara daring.
"Semoga ke depan pemasaran produk kami menjadi semakin luas lagi," katanya sembari tersenyum.

Kurangi Pengangguran
Manisnya hasil kreatifitas mengolah limbah kayu tidak dirasakan sendirian oleh Slamet. Ia merekrut para pemuda desa yang menganggur untuk membantunya.

Saat ini, Slamet memiliki 25 karyawan tetap dan 22 karyawan lepas yang membantu pengerjaaan produk kerajinan di rumah masing-masing.

Dia juga bekerja sama dengan 35 industri rumah tangga sebagai pemasok tetap yang rata-rata merupakan eks karyawan yang sudah bisa mandiri. Mereka tersebar di Klaten, Wonogiri, Pracimantoro, dan Gunung Kidul.

Kepala Desa Brangkal, Haryanto memuji langkah Slamet tersebut. Dia menyebutnya sebagai langkah nyata membantu mengurangi pengangguran dan meningkatkan perekonomian warga setempat.

"Usaha Slamet telah ikut membantu memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga di sini," katanya. (N-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya