KETERSEDIAAN telur di Kota Batam, Kepulauan Riau, nyaris nihil. Kalau pun ada, harganya mencapai Rp45 ribu per kilogram.
Sejumlah warga menduga kelangkaan itu terjadi akibat ulah spekulan, yang menahan distribusi telur untuk menggenjot harga. "Telur menghilang dari tiga pasar besar yang ada di Kecamatan Sekupang. Ada pedagang dengan persediaan terbatas menjualnya dengan harga Rp45 ribu, sangat tidak masuk akal," keluh Afri, ibu rumah tangga di Perumahan Tiban Indah, Kecamatan Sekupang.
Dari pantauan Media Indonesia, di sejumlah pasar dan minimarket di kawasan Sekupang, dan Batu Aji, pedagang sembako mengaku tidak memiliki persediaan telur. Mereka menyatakan sudah tidak mendapat pasokan telur dalam sepekan terakhir.
Dari penelusuran Media Indonesia kelangkaan telur ini terjadi akibat ulah spekulan yang menyimpannya di gudang-gudang di kawasan Batu Ampar, Tanjung Riau dan kawasan Pulau Galang. Gudang tersebut sengaja disewa oleh para spekulan dan penyelundup sembako.
A Liang, pemilik gudang sembako di kawasan Batu Ampar tidak bersedia dikonfirmasi. Begitu pula dengan pemilik gudang sembako di Tanjung Riau, Aliang. Aksi tutup mulut juga dilakukan Akau, pengusaha lainnya.
Ketua Bidang Perdagangan Himpunan Pengusaha Pribumi Kepulauan Riau, Zulkifli Al Karim menyatakan kelangkaan telur merupakan bukti lemahnya pengawasan. Meski telur dan sembako lainnya di Batam sangat vital bagi masyarakat, pemerintah daerah tidak memperketat pengawasannya, sehingga penyelewengan terjadi.
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Energi Sumber Daya Mineral Kota Batam, Amsakar Achmad mengaku belum menerima laporan kelangkaan telur. "Saya akan minta anak buah mengecek di lapangan." (N-3)