Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SUARA lonceng dari Gereja Santo Servatius di Jalan Raya Kampung Sawah, Kelurahan Jatimurni, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, berdentang berkali-kali tepat pukul 12.00 WIB, Selasa (4/4). Tak lama kemudian, suara azan yang berkumandang dari pengeras suara Masjid Istiqamah nan teduh berkumandang. Jarak keduanya hanya sekitar 200 meter. Begitulah secuplik suasana sehari-hari permukiman Kampung Sawah, sebuah kampung yang mendunia karena kerukunan hidup antarumat beragama. Kampung Sawah, yang berada tidak jauh dari akses Tol Cikunir-Hankam, ialah salah satu kampung Betawi di Bekasi. Di kampung itu masih banyak pohon besar yang usianya sudah seabad. Di kampung itu, sejak lebih dari seabad silam, berdiri dua gereja, Gereja Katolik Santo Servatius dan Gereja Kristen Pasundan Jemaat Kampung Sawah. Sebuah masjid besar berdiri berdampingan dengan Gereja Kristen Pasundan.
Bagi orang yang baru pertama kali datang ke kawasan itu, bunyi suara azan dan lonceng gereja yang berdekatan bisa menjadi sesuatu yang asing.
“Namun, buat warga sini, itu bukan sesuatu yang aneh lagi. Mungkin bagi yang baru pertama kali ke sini, dia merasakan ada atmosfer yang berbeda,” terang M Nalih Ungin, salah satu tokoh masyarakat di situ. Oleh Rahmat Effendi, Wali Kota Bekasi yang kini menjabat, Kampung Sawah didaulat sebagai ‘Kampung Pancasila’ karena nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila secara nyata dilakukan masyarakat Kampung Sawah dalam kehidupan sehari-hari.
“Kampung ini dianggap sebagai miniatur Indonesia, yang masyarakatnya berasal dari beragam budaya, agama, ras, dan golongan, tapi tetap memelihara toleransi,” terang Nalih. Kesadaran hidup rukun di kampungnya, sambung Nalih yang asli keturunan Betawi itu, merupakan warisan dari para pendahulu warga kampung tersebut. Ia menuturkan, di masa lampau, kampung itu berupa hutan belantara. Mayoritas warga ialah orang Betawi berbahasa Melayu yang beragama Islam. Protestan baru hadir pada 1896 yang ditandai dengan kehadiran Pendeta Meester FL Anthing di bawah Perhimpunan Pekabaran Injil Belanda. Dalam menyiarkan protestan di kawasan itu, Meester Anthing memadukan ritus-ritus Kristen dengan budaya Betawi. “Jadi, jangan kaget kalau melihat ada orang pakai peci dan baju Betawi di dalam gereja. Itu warga sini yang sedang beribadah. Pembauran ini adalah warisan dari leluhur kami,” terang Nalih.
Radio komunitas
Untuk menjaga warisan berupa keharmonisan di Kampung Sawah, sebuah komunitas telah dibentuk. Komunitas yang beranggotakan muda-mudi Kampung Sawah itu fokus di seputar pelestarian adat istiadat dalam konteks toleransi dan kebersamaan. Hasil nyatanya, Radio Komunitas Kampung Sawah (RKS) dan Koran Kampung Sawah terbentuk dengan tugas memberitakan seputar ihwal kampung sawah. Dengan begitu, adat dan tradisi di luar Kampung Sawah sejenak harus ditinggalkan. “Di sini, bukan hanya toleransi antaragama, melainkan toleransi antarmasyarakat. Itu fondasi masyarakat Kampung Sawah,” katanya.
Hal itu dibuktikan dengan keguyuban warga di setiap kegiatan keagamaan di sana. Ketika umat kristiani merayakan Natal, warga muslim sibuk menjadi panitia, mulai tugas pengamanan hingga menjaga kelancaran arus lalu lintas. “Begitu pula sebaliknya. Jika Idul Fitri, panitianya selalu warga protestan dan katolik. Aneh? Tidak buat warga Kampung Sawah,” ujar Nalih sambil tersenyum. (J-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved