Bekasi bakal Menjadi Kota Modern

Gana Buana
13/3/2017 07:29
Bekasi bakal Menjadi Kota Modern
(Grafis/Ebet)

PEMBANGUNAN moda transportasi massal bernama aeromovel di Kota Bekasi kembali molor. Hal itu disebabkan perjanjian dengan tiga konsorsium utama sebagai pemodal berujung pada pembatalan.

Sebelumnya diketahui, megaproyek itu akan dibangun melalui konsorsium tiga kontraktor, yaitu PT PPP Indonesia, PT Cakar Bumi Intergritas, dan PT Intiadi Dwi Mitra Sejati. Pembangunannya direncanakan dimulai pada awal Februari 2016.

Kereta berkapasitas 300 penumpang itu akan melaju dari Kemang Pratama Kecamatan Rawalumbu sampai Harapan Indah Bekasi Kecamatan Medansatria dengan jarak 12 kilometer. Lintasannya dibuat melayang dengan ketinggian 5 meter. Keberadaan kereta tersebut dipercaya bisa memangkas waktu perjalanan dari Kemang Pratama-Harapan Indah atau sebaliknya dari 60 menit menjadi 30 menit.

Trase pun sudah ditetapkan. Pada tahap pertama, dibangun trase Harapan Indah-Summarecon-Stasiun Bekasi-Kali Bekasi-RSUD Kota Bekasi-Bendung Bekasi-Kompleks Pengairan-Hotel Amaris-Jalan Ahmad Yani-Jalan Juanda-Stasiun. Di tahap kedua, Jalan Ahmad Yani-Rawapanjang-Jalan Siliwangi-Kemang Pratama.

Wakil Wali Kota Bekasi Ahmad Syaikhu, kemarin, menyampaikan kendala pembangunan jalur aeromovel saat ini berupa ketersediaan pendanaan yang mencapai sekitar Rp2 triliun. Pihaknya mengaku kesulitan menghadirkan investor yang sanggup menggarap proyek berinvestasi jumbo itu.

Sebetulnya tahun lalu konsorsium dari tiga perusahaan sudah menyanggupi. Mereka tinggal melakukan feasibility study atau studi kelayakan. Namun, lantaran satu tahun sudah tak ada perkembangan sesuai dengan kesepakatan yang sudah dilakukan, kerja sama terpaksa dibatalkan.

Syaikhu berdalih proyek tersebut kini dilirik perusahaan asal Korea. Perusahaan itu masih melakukan feasibility study. “Kami sudah memaparkan ke sana, tapi mereka masih menimbang sebab dana pengerjaannya tidak sedikit,” kata dia.

Menurut Syaikhu, pengkajian proyek wajib dilakukan sebelum pembangunan itu terlaksana. Bila hasil kajian menunjukkan proyek itu membawa pengaruh buruk, pembangunannya tidak bisa dilaksanakan.

“Sebaliknya, bila hasil kajian soal aeromovel baik, akan kami percepat pembangunannya,” kata dia.
Keberadaan aeromovel diyakini membawa nilai positif terhadap transportasi bagi warga Kota Bekasi.

Setidaknya, transportasi tersebut bisa mengurai kemacetan hingga 40% yang biasa terjadi di daerah mitra Ibu Kota itu. Soalnya, setiap hari kemacetan menghantui sejumlah ruas protokol, semisal Jalan Raya Sudirman dan Jalan Raya Juanda. “Selain bisa mengangkut warga dalam jumlah besar, lintasan aeromovel tak akan menambah beban jalan yang telah ada,” tambah dia.

Anggota Komisi B Bidang Infrastruktur DPRD Kota Bekasi Rey­nold F Tambunan mendesak pemerintah untuk segera merealisasikan aeromovel. Hal itu disebabkan rekayasa lalu lintas yang dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bekasi untuk mengurai kemacetan dinilai gagal. Rekayasa itu, kata dia, malah memindahkan titik kemacetan ke ruas lain, bukannya mengurangi.

Reynold mengimbau, jika proyek itu selesai, pemda harus mampu mengajak warga beralih ke angkutan tersebut. Caranya dengan memberi kenyamanan, keamanan, dan harga yang ekonomis dalam penggunaan aeromovel. Lambat laun, ujar dia, warga akan beralih menggunakan aeromovel.

Pemilihan aeromovel disebabkan teknologi itu dinilai lebih efektif dan efisien. Kereta itu tidak menggunakan tenaga diesel atau listrik, tetapi dengan tenaga angin.

Sekadar informasi, aeromovel atau disebut juga dengan kereta gerak udara atau kereta atmosferis merupakan kendaraan bertenaga tekanan udara. Jenis kereta tersebut memanfaatkan perbedaan tekanan udara sebagai sumber tenaga pendorong.

Di Indonesia, aeromovel sudah diterapkan sejak 1989 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) bernama SHS 23 saat Presiden Soeharto berkuasa.

Ketika itu, Soeharto berkeinginan membuat kendaraan umum ramah lingkungan dan bebas macet. Negara lain telah menerapkan teknologi itu. Contohnya, Brasil menjadikan aeromovel sebagai transportasi utama saat Piala Dunia 2014. (Gan/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya