Memutus Tradisi Tawuran Bersama Waris

(Intan Fauzi/J-1)
08/3/2017 05:25
Memutus Tradisi Tawuran Bersama Waris
(MI/RAMDANI)

MENYAKSIKAN tawuran antaranak muda di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, seperti memutar kembali kaset lama yang sudah usang. Para orang tua yang tinggal di kawasan itu mengaku sudah bosan menyaksikan tawuran yang sudah berlangsung sejak era 1990-an tersebut. Reni, 52, seorang warga Tambak, mengungkapkan tawuran di daerahnya itu sudah seperti budaya yang turun-temurun. Sulit sekali menghilangkan kebiasaan tersebut. “Di sini tawuran sudah turun-temurun,” ucapnya.

Kata Reni, tawuran memang sering kali dipicu hal sepele. Namun, dendam akibat tawuran masih membekas, terutama pada warga yang keluarganya menjadi korban. “Apalagi kalau ada yang meninggal, bakal lanjut terus tawurannya. Ada anak yang terluka akibat tawuran, orangtuanya pasti ikut tawuran lagi buat balas dendam,” ujar Reni. Hal itu yang menjadi perhatian seorang anak muda setempat, Randy Rahmadi. Bersama kawan-kawannya yang tinggal di daerah Pegangsaan, Manggarai, dan Matraman, daerah yang warganya selama ini dikenal doyan tawuran, Randy mendirikan Warung Inspirasi (Waris), sebuah kumpulan anak muda yang secara sosial fokus pada masalah konflik kekerasan di Ibu Kota.

“Perilaku anak muda di wilayah Tambak dan Manggarai yang sering berkerumun menjadi mudah untuk dimobilisasi, termasuk untuk kepentingan negatif. Melalui Waris, kami ingin mengubah itu, dari berkerumun jadi berbaris,” ucapnya. Waris didirikan Randy sejak 2011 dan bermarkas di sebuah rumah, tepat di seberang Taman Amir Hamzah. Dengan dukungan dari orangtua, markas komunitas itu beraktivitas 24 jam sehari. Kini, Waris beranggotakan 185 pemuda yang berasal dari Kelurahan Matraman, Manggarai, Menteng, dan Pegangsaan.

Awal dibentuk, Waris menjadi wadah anak muda menyalurkan hobi mereka bermusik. Randy dan kawan-kawan coba merangkul anak-anak remaja seusia mereka untuk bermusik di situ. “Termasuk pentolan-pentolan yang suka tawuran, kami rangkul. Kami ajak bikin grup musik, dan mereka mau. Lama-lama mereka bosan juga tawuran, mending main musik. Musik itu bahasa universal untuk berkomunikasi,” ujar anak muda asli Jakarta itu.

Waris kini mulai melebarkan sayap. Randy dan kawan-kawan kini tidak hanya fokus bermusik. Mereka sedang mengasah kemampuan dalam berwirausaha di bidang kuliner, game center, dan pakaian. “Solusi mengurangi tawuran dengan menyibukkan diri di kegiatan kayak ini, social entrepreneurship. Anak muda harus diberi ruang untuk berkembang. Kalau tidak ada ruang, aktivitas mereka jadi bisa negatif,” tukas Randy yang cuma lulusan sekolah menengah atas itu. (Intan Fauzi/J-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya