Mengurai Tawuran Manggarai

(MTVN/J-1)
08/3/2017 05:15
Mengurai Tawuran Manggarai
(ANTARA FOTO/Ridwan Hasan)

UNTUK ke sekian kalinya, tawuran antarwarga kembali terjadi di Jalan Tambak, Manggarai, Jakarta Selatan. Seperti yang sudah-sudah, pemicunya selalu masalah sepele. “Tapi walau disebabkan masalah sepele, selalu ada nyawa yang melayang. Dalam tawuran kemarin (Minggu (5/3) dan Senin (6/3)), dua orang yang tewas,” terang pendiri komunitas pemuda Wa-rung Inspirasi (Waris), Randy Rahmadi, 25, Selasa (7/3). Saat ditemui di rumahnya yang juga menjadi kantor Waris di Jalan Taman Amir Hamzah, Pegangsaan, Jakarta Pusat, Randy menuturkan sejumlah alasan klasik yang menjadi penyebab tawuran warga Jalan Tambak dan Manggarai tersebut.

“Pelaku tawuran ialah anak-anak yang tinggal di permukiman padat penduduk, dari kalangan kelas ekonomi menengah ke bawah. Mereka memperebutkan sumber-sumber ekonomi seperti lahan parkir dan lapak jualan.” Sudah menjadi rahasia umum, sambung Randy, sejak lama kelompok anak muda di sekitar Kelurahan Pegangsaan, Manggarai, dan Matraman terlibat konflik adu kekuatan. Itu mereka lakukan untuk mempertahankan wilayah kekuasaan masing-masing. Dengan kekuasaan itu, kelompok terkuat bisa memperoleh uang dengan cara pre­manisme. “Jadi ta­wuran bisa cuma karena rebutan lahan parkir. Cara pikir mereka itu adu kuat supaya nanti ke depannya orang-orang kasih uang ke mereka,” ungkapnya.

Motif lainnya, imbuh Randy, ialah untuk menutupi peredaran narkoba di wilayah itu. Dengan tawuran, polisi akan disibukkan dengan upaya pencegahannya dan luput mengawasi peredaran narkoba di kawasan itu. “Pengalaman saya, dalam konflik tawuran itu memang ada kasus narkobanya,” ujarnya. Pengalamannya itu, kata Randy, didapat saat ia masih duduk di bangku SMA. Saat itu, ia menjadi bagian dari anak muda yang suka tawuran. “Pas tawuran itu, saya baru tahu ternyata kami dimanfaatkan bandar-bandar narkoba. Mereka memanfaatkan geng-geng anak muda untuk menyamarkan aksi mere­ka,” terangnya.

Motif tawuran lainnya, tapi jarang terjadi, ialah karena persoalan perbedaan sikap politik. Sebagai contoh tawuran yang terjadi sebelumnya di masa kampanye Pilpres 2014 dan kampanye putaran pertama pilkada DKI Jakarta. “Itu karena urusan politik. Gara-gara beda beri dukungan, anak-anak bisa tawuran. Maka itu, saya harap pilkada DKI segera selesai. Soalnya anak-anak di sini gampang tersulut emosinya,” ujar Randy.

Berjaga-jaga
Hingga kemarin, puluhan polisi masih berjaga-jaga di sekitar lokasi tawuran. Polisi berjaga untuk mengantisipasi terjadinya kembali tawuran. “Sekarang sudah reda. Tapi karena kejadiannya baru Selasa (7/3), warga masih mudah tersulut. Jadi harus tetap dijaga,” kata Kanit Binmas Polsek Menteng Komisaris Santoso. Ia menerangkan, seusai tawuran reda pada Senin (6/3) malam, 25 personel langsung diterjunkan, berjaga siang-malam di sekitar Jalan Tambak. “Personel dari Polres Jakarta Pusat dan Polsek Menteng,” ujar Santoso. Polisi pun ada yang berjaga-jaga di sekitar Jalan Manggarai, Jakarta Selatan. “Lain lagi yang berjaga di Manggarai. Itu dari Polres Jakarta Selatan, ada 100-an personel,” jelasnya. (MTVN/J-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya