Ahok Endus Ada Proyek Abadi

(Put/Ssr/MTVN/P-1)
04/12/2015 00:00
Ahok Endus Ada Proyek Abadi
(ANTARA FOTO/Risky Andrianto)
GUBERNUR DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengaku kesal melihat perilaku kerja bekas anak buahnya, Tri Djoko Sri Margianto, saat menjabat Kepala Dinas Tata Air DKI. Selama Tri memimpin, pengerjaan proyek-proyek di dinas tata air dibuat setengah-setengah agar menjadi proyek abadi sehingga anggaran akan terus mengalir. "Ini pekerjaan dibuat setengah-setengah biar uang bisa keluar terus. Saya enggak mau itu," ujar Ahok seusai melantik Teguh Hendarwan yang menggantikan Tri Djoko di Balai Kota, kemarin. Ahok mencontohkan proyek pembangunan tembok penahan air laut di Utara Jakarta yang saat ini terbengkalai. Padahal, proyek itu merupakan bagian dari usahanya membebaskan Jakarta dari banjir.

"Ketinggian air di daerah Utara itu bisa mencapai 2,8 meter tanpa hujan. Ini 90 km (panjang tembok penahan banjir) enggak dibangun, bagaimana Jakarta enggak kebanjiran," ucapnya dengan nada tinggi. Tak berhenti di situ. Ia juga kesal lantaran alat berat pengeruk sampah banyak yang tidak bekerja. Padahal, anggaran untuk membuang sampah dari sungai mencapai Rp400 miliar per tahun. "Itu apa-apaan? Alat berat cuma nangkring, saluran penghubung enggak dikeruk. Saya sudah perintahkan untuk beli alat berat, eh sekarang alasannya operator enggak ada," jelas mantan Bupati Belitung Timur itu.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Tata Air Teguh Hendarwan mengatakan akan mempercepat pemancangan turap dinding sungai (sheet pile) di sungai-sungai yang melewati Jakarta sebagai upaya mengantisipasi banjir. Ia mengaku tidak mudah membangun sheet pile dalam waktu yang sangat singkat. Terlebih tutup tahun anggaran tinggal dua pekan lagi. "Pekerjaan rumah dari Pak Gubernur, yaitu kerjakan sheet pile. Kalau sungai besar kan diserahkan ke pemerintah pusat, tapi sungai-sungai kecil bisa kami yang tangani. Itu yang saya kejar. Namun, mungkin agak sulit juga karena 15 Desember sudah tutup buku," kata Teguh.

Selain membangun sheet pile, pihaknya juga menargetkan bisa meminimalisasi genangan air yang kerap terjadi di saat hujan. "Terobosan pertama jangan sampai ada genangan. Kalau ada genangan, tidak boleh lebih dari 24 jam," ujar Teguh. Ia menambahkan, untuk menuntaskan persoalan genangan, diperlukan kerja keras dan koordinasi dengan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dan unit kerja perangkat daerah (UKPD). "Perlu kerja keras dan kerja sama yang baik dengan suku dinas, camat, dan dinas kebersihan. Saya yakin di masa depan lebih bagus, tinggal kontrol saja," kata Teguh. Teguh menjadi pejabat pertama di lingkungan dinas tata air yang tidak berasal dari dinas teknis. Ia pernah menjadi Camat Pulogadung. "Kenapa saya pilih bekas camat? Karena sebelumnya Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta juga mantan camat dan kinerjanya baik," kata Ahok.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya