Tambal Sulam Jalan Ibu Kota

Sri Utami
24/2/2017 09:28
Tambal Sulam Jalan Ibu Kota
(Puluhan warga dari berbagai organisasi masyarakat berunjuk rasa di lokasi jalan rusak di Jalan Pahlawan, Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (23/2). -- ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya)

AKIBAT hujan, titik jalan rusak di Ibu Kota semakin banyak. Sekali pun tidak ditambah faktor hujan, perbaikan jalan rusak yang ada pun tidak kunjung selesai. Perbaikan dengan cara tambal sulam masih menjadi jurus andalan untuk menyiasati anggaran terbatas.

Kepala Bidang Pemeliharaan Bina Marga DKI Jakarta Suko Wibowo Edy Santoso mengungkapkan anggaran yang diberikan pemerintah cuma sekitar Rp500 miliar per tahun. Angka itu jauh dari cukup karena harus dibagi dengan perawatan sarana lain, seperti jembatan penyeberangan orang, marka jalan, dan halte Trans-Jakarta.

Dalam pengerjaan perbaikan jalan, pihaknya tinggal menunjuk vendor yang sudah menandatangani kontrak dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). “Tidak perlu ditenderkan lagi,” terangnya, kemarin.

Jalan rusak yang harus segera diperbaiki tahun ini antara lain Jalan Dewi Sartika, Basuki Rahmat, Jatinegara Barat dan Timur, Kebon Jeruk, Kebayoran Lama, Meruya Utara, Pos Pengumben, Buncit Raya, dan Rasuna Said.

Selanjutnya, Simprug, Lingkar Luar Kamal, Warung Jati Barat, Kembangan Raya, Jembatan Besi, Bojong Raya, Cikini Raya, Raden Saleh, Tanah Abang, Asia Afrika, Penjernihan, Salemba, Pejompongan, HOS Cokroaminoto, Gunung Sahari, Menteng Raya, serta Cakung Cilincing.

Secara terpisah, Kepala Bidang Perencanaan dan Teknis Dinas Bina Marga DKI Jakarta Hans Mahendra menambahkan pihaknya hanya mampu memperbaiki 3%-5% jalan dari 50 juta kilometer jalan di Ibu Kota. Banyaknya titik rusak itu menyebabkan banyak jalan rusak yang tidak dapat diperbaiki dengan maksimum. “Artinya butuh waktu 20 tahun untuk dapat memperbaiki semuanya,” terang Hans.

Penutup lubang
Karena melihat kemampuan pemeliharaan dan jalan rusak sangat tidak seimbang, Hans membuat strategi dengan membentuk tim penutup lubang sampai tingkat kecamatan.

Tim bekerja untuk menambal jalan berlubang dengan material semen dan paving block bersama Satgas Suku Dinas Pemkot dan Dinas Bina Marga DKI Jakarta. Tim satgas dinas berjumlah 1.282 orang plus 40 dari tim kuning (pekerja lepas).

“Dengan anggaran yang ada dan SDM yang tersedia, kami harus selektif memperbaiki jalan. Kami prioritaskan berdasarkan kerusakan mulai jalan protokol, arteri, hingga jalan kecamatan.”

Materialnya didistribusikan Suku Dinas dan Dinas Bina Marga. Selanjutnya, tim menambal jalan dengan mengutamakan jalan rusak yang paling banyak dilalui kendaraan.

Menurut Hans, selama ini vendor pengerjaan perbaikan jalan tidak mencakup pengerjaan bagian lain dari jalan tersebut sehingga perbaikan tidak efektif. “Itulah sebabnya kami mencari vendor yang bisa tuntas mengerjakan tugas, bukan hanya mengaspal jalan, melainkan juga harus tuntas membenahi bagian lain. Vendor seperti ini yang akan kami masukkan kontrak.”

Jalan rusak cepat terulang bukan hanya disebabkan air menggenangi jalan. Penggunaan kualitas aspal yang selama ini dipakai juga telah tertinggal dari negara lain. Perbandingannya enggak usah jauh-jauh, yakni Malaysia.

“Kita sudah tertinggal dari Malaysia. Negara jiran itu sudah menggunakan aspal berbahan karet. Kualitasnya lebih baik, tahan air, dan daya lekatnya juga lebih aman,” kata Hans. Saat ini penggunaan aspal dengan kualitas itu baru diterapkan di kawasan Cengkareng. (J-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya