Nebeng Menyeberang agar Selamat

(Sri Utama/B-1)
20/2/2017 02:30
Nebeng Menyeberang agar Selamat
(ANTARA FOTO/Indrianto Eko)

NEBENG mungkin merupakan kebiasaan yang sudah ditinggalkan kebanyakan warga Jakarta saat ini. Dengan adanya transportasi daring (online), kebiasaan nebeng atau menumpang gratis kini telah berganti dengan 'saweran' naik taksi aplikasi bersama-sama. Namun, dalam perkembangannya, kini nebeng beralih dari nebeng kendaraan menjadi nebeng saat menyeberang jalan. Ya, nebeng menyeberang jalan menjadi pilihan agar bisa sampai dengan selamat di ujung jalan.

Seperti dilakukan Mirasmi, 31, warga Bogor, yang setiap hari harus berjuang untuk bisa menyeberangi Jalan KH Mas Mansyur dari dan menuju Stasiun Karet Bivak. Ia sudah kenyang mengalami kejadian hampir ditabrak kendaraan. Jalur penyeberangan yang tidak tersedia memaksa mereka harus berhadapan dengan semua kendaraan yang melintas tanpa memedulikan keselamatan. "Saya sudah kenyang ribut dengan pengendara kendaraan mobil dan motor karena mau ditabrak. Mereka seenaknya saja jalan, tidak mau ngalah dengan kami yang mau menyeberang. Jadi, mau menyeberang di sana sama saja kami bertaruh nyawa," tegasnya.

Dalam menyiasati hal itu, wanita yang bekerja di kawasan Kota Kasablanka tersebut memilih nebeng menyeberang bersama orang lain. Bahkan, dia sering memilih bertahan di seberang jalan hanya untuk menunggu banyak orang yang menyeberang. "Kalau menyeberang sendiri, lebih mungkin ketabrak kalau dibandingkan dengan beramai-ramai," ujarnya. Kesemrawutan jalan yang terletak di perempatan lampu merah antara Benhil, Karet Bivak, dan Tanah Abang itu memang cukup mengerikan.

Semua kendaraan berebut melaju untuk tiba di tujuan. Bahkan, sebelum lampu hijau menyala, kendaraan bermotor sudah keluar dari jalur berhenti. Tidak hanya itu, puluhan jasa ojek daring dan nondaring pun mangkal di tengah dan pinggir jalan. Jika kereta berhenti, para tukang ojek itu berebut mencari penumpang yang tumpah di jalan. Jalan yang menghubungkan empat penjuru Jakarta itu memang menjadi jalur favorit bagi pengguna kendaraan, begitu pun pekerja yang setia menggunakan jasa angkutan kereta.

Dalam menanggapi keluhan warga akan sulitnya menyeberang di daerah itu, Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Widjatmoko menjelaskan pem Koordinasi pun sudah dilakukan dengan berbagai pihak terkait. Salah satunya Dinas Bina Marga. Dia mengakui kesemrawutan di kawasan itu juga disebabkan tidak tersedianya JPO. "Sudinhub Jaksel sudah menata tempat itu, termasuk tindak lanjut untuk menutup lintasan sebidang di sana, dan sampai sekarang sudah disiagakan di sana," terangnya. Semoga dengan tersedianya JPO, kebiasaan nebeng untuk menyeberang dapat terkikis.
Jakarta menjadi kota ramah bagi warga yang banyak berseliweran di jalan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya