Normalisasi Sungai Jadi Kunci Jawaban

Yanurisa Ananta
18/2/2017 09:47
Normalisasi Sungai Jadi Kunci Jawaban
(Warga melihat luapan air dari rumah gubuknya di bantaran Sungai Ciliwung kawasan Manggarai, Jakarta Selatan, kemarin. -- ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

GUBERNUR DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) kembali menegaskan normalisasi sungai di Jakarta sebagai kunci jawaban dari permasalahan banjir di Ibu Kota. Semakin lama su­ngai dinormalisasi, semakin lama pula Jakarta bebas dari banjir.

“Yang pasti, kalau sungai enggak dinormalisasi, ya enggak mungkin banjir bisa teratasi. Banjir kan disebabkan tidak semua sungai diperlebar,” kata Ahok di Balai Kota, kemarin.

Meski program normalisasi sungai mendapat kritikan dari sejumlah kalangan karena akan berujung pada pener­tiban kawasan permukiman, Ahok menyatakan program normalisasi sungai akan tetap jalan terus. Ia juga telah memerintahkan Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta mengebut pengerjaan normalisasi sungai. “Selama trase sungai belum diperlebar secara maksimal, banjir sulit dibendung,” tegas Ahok.

Keyakinannya untuk meneruskan program normalisasi sungai itu, sambung Ahok, karena melihat hasil menggembirakan dari normali­sasi yang baru setengah jalan saat ini. Kini tidak ada lagi banjir yang menginap hingga 12 jam bahkan berhari-hari. Cukup dalam waktu 3-4 jam, genangan sudah surut.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menambahkan seluruh proyek pencegahan banjir di Jakarta baru akan rampung pada 2017 ini sehingga bisa diperkirakan, Jakarta baru bisa bebas dari banjir pada 2018.

“Kalau tahun ini semua proyek itu selesai, pada 2018 kita enggak lagi khawatir hujan deras atau enggak,” kata Djarot seusai meninjau lokasi banjir di Gang Arus Dalam, Cawang, Jakarta Timur, kemarin.

Proyek-proyek untuk membebaskan Jakarta dari banjir itu yakni normalisasi kali, perbaikan drainase, dan memperbanyak sumur serapan, termasuk menata ruang terbuka hijau (RTH).

“Sekarang yang kami benahi adalah drainase. Memang yang Jakarta Timur itu sheet pile-nya belum sempurna. Namun, kita lihat sekarang, itu kan sudah jauh berkurang drastis banjirnya,” ujar Djarot.

Selain itu, sambungnya, Pemprov DKI sudah membuat konsep penyimpanan air melalui embung dan situ.

“Konsep kami, air yang datang dari atas itu kami simpan sebanyak mungkin. Maka itu sudah sejak tahun lalu, ada gerakan menampung air dengan membikin sumur resap­an,” kata dia.

Semua program itu berjalan simultan di tahun ini dan pengerjaannya dikebut.

Beli alat berat
Di kesempatan berbeda, Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta Teguh Hendarwan menjelaskan normalisasi Su­ngai Ciliwung yang dikerjakan Pemprov DKI Jakarta bersama Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) sampai kini baru mencapai 40%.

“Pengerjaan normalisasi Sungai Ciliwung memasuki tahun ke empat ini pencapaiannya baru 40%,” kata Teguh.

Ia menyebutkan ada sejumlah permasalahan di lapangan yang membuat normalisasi Sungai Ciliwung berjalan lambat, antara lain pengadaan lahan, gugatan warga, serta proses relokasi yang memakan waktu cukup lama.

Meski demikian, kata Teguh, banjir di kawasan yang dilintasi Sungai Ciliwung sudah banyak berkurang.
Untuk mengebut pengerjaan normalisasi sungai itu, pihaknya telah menganggarkan Rp201,5 miliar untuk pembelian 80 alat berat. Alat-alat tersebut nantinya akan digunakan untuk pekerjaan normalisasi kali dan pengeruk­an saluran.

“Alat berat kita jumlahnya masih jauh dari memadai. Karena Jakarta ada 13 sungai, 108 waduk, dan saluran PHB lainnya. Maka dari itu, kita berbenah tambah alat berat,” kata dia.

Ia menyebutkan beberapa alat berat yang akan dibeli seperti pompa mobile long excavator, long amphibi, hingga dump truck. (J-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Oka Saputra
Berita Lainnya