Bercocok Tanam di Lahan Sempit bukan lagi Impian

Yanurisa Ananta/J-3
18/2/2017 05:01
Bercocok Tanam di Lahan Sempit bukan lagi Impian
(MI/Ramdani)

DI mana ada kemauan di situ ada jalan, pameo itu yang mendorong Dinas Kelautan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan (KPKP) dua tahun terakhir menggencarkan program Urban Farming atau Pertanian Perkotaan.

Bercocok tanam baik tanaman sayuran maupun obat-obatan bisa di pekarangan rumah.

Dinas KPKP Jakarta Pusat, misalnya, seperti disampaikan Kepala Bidang Pertaniannya, Diah Meidiante, tahun ini menyiapkan anggaran sebesar Rp3 miliar untuk fasilitas pertanian perkotaan.

Dana itu untuk rak tanaman, bibit tanaman, dan beragam pupuk.

Fasilitas tersebut akan didistribusikan ke 75 kawasan gang permukiman di lima wilayah Kota Jakarta.

Sebelumnya, Dinas KPKP juga sudah menggencarkan program serupa ke 105 gang perumahan pada 2016.

"Tujuannya membangun perumahan yang hijau sekaligus bermanfaat sehingga kami fasilitasi warga mulai dari rak tanaman, bibit, dan pupuk untuk budi daya sayuran dan obat-obatan," kata Diah, kemarin.

Salah satu hasil nyata dari program tersebut ialah warga Jalan Kramat 5, Kelurahan Kenari, Senen, Jakarta Pusat.

Warga yang tergabung dalam kelompok pertanian perkotaan Tani Lantana memanen 40 kilogram sayuran yang ditanam di pekarangan mereka.

Tanaman yang sudah siap panen, meliputi sayuran pok coy, bayam merah dan kangkung.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk memanen sayuran.

Tiga pekan setelah menanam, sayuran sudah mulai bisa dipanen.

Sayuran aman dikonsumsi karena bebas dari pestisida dan tidak menggunakan obat tanaman.

Teknologi yang digunakan juga tidak rumit karena warga bisa menggunakan air (hidroponik) yang ditempatkan pada paralon, pot, atau poly bag sebagai media penanaman.

"Awal mulanya banyak warga yang menolak karena terlalu repot untuk mengurus tanaman hidroponik. Banyak juga yang sudah komitmen tapi perawatannya justru dilimpahkan ke tetangganya. Ini semua tergantung pada kinerja lurah bisa memotivasi warga atau tidak," kata Diah.

Hendra Kurnia, koordinator pengurus Urban Farming di wilayah permukiman Jalan Cikini 7, Kali Pasir Dalam RT 07/RW 01, Jakarta Pusat, mengatakan, selama ini hasil panennya dijual ke pedagang kaki lima.

Daun kemangi dan selada dijual ke pedagang pecel lele tak jauh dari permukimannya.

"Kami jual sesuai dengan harga pasar. Tidak ambil untung. Kami jual juga supaya ada perputaran uangnya. Hasilnya kami gunakan untuk beli bibit dan tanam lagi," imbuh Hendra yang memulai kegiatan Urban Farming sejak empat tahun lalu.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya