Tak Terasa, 105 Hari Bersama Soni

(Yanurisa Ananta/J-3)
10/2/2017 04:40
Tak Terasa, 105 Hari Bersama Soni
(MI/PANCA SYURKANI)

TERSISA dua hari lagi Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Sumarsono duduk di kursi panas DKI-1. Meski dia hanya tiga setengah bulan menjadi manajer pengganti, ternyata kehadirannya meninggalkan bekas mendalam di hati para petinggi satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Salah satunya Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DKI Jakarta Agus Suradika. Kesan itu Agus tumpahkan dalam puisi ciptaannya yang berjudul Aku Dibikin Malu. ‘Sungguh, awalnya aku ragu dengan kemampuannya Masalah kemacetan, genangan, organisasi perangkat daerah (OPD) baru, pilkada, netralitas birokrasi, demo buruh, APBD, tenaga honorer, dan setumpuk persoalan krusial lainnya Aduh.... apa iya beliau akan mampu? Aduh.... aku dibikin malu’ Demikian penggalan puisi yang dibacakan Agus Suradika di hadapan Soni, sapaan Sumarsono, di sela kegiatan senam bersama di Silang Monas, Jakarta Pusat, Kamis (9/2).

Bait puisi Agus awalnya meragukan kemampuan Soni memimpin Jakarta. Termasuk soal rapat di kereta. ‘Bagaimana mungkin bisa rapat di kereta? Ngaco aja ini gagasan. Begitu aku dengar percakapan banyak pihak. Jalan keretanya aja gujlak... gajluk... gujlak... gajluk, malam hari pula. Halah, nggak mungkin lah rapat, bilang aja kalau ingin piknik ke Yogya’ Keraguan itu berubah menjadi pujian. Agus menilai Soni sebagai sosok yang kaya pengalaman, penghayatan, peduli, santun, humoris, dan pandai melobi.

Soni yang mendengar bait-bait puisi itu tampak sesekali tersenyum. Ratusan pegawai Pemprov DKI yang ikut dalam acara pelepasan Soni sebagai plt gubernur sama-sama tersenyum. Senyum serupa juga merekah di bibir para kepala dinas yang hadir melepas Soni. Kesan mendalam tidak hanya dirasakan para kepala SKPD. Soni juga merasakan hal yang serupa. Pertama, terkait dengan pengesahan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) yang disahkan tepat waktu. Soni mengaku masih segar di ingatannya bagaimana berkoordinasi dengan segenap perangkat Forkominda dalam mengendalikan sejumlah aksi massa di Jakarta beberapa bulan terakhir.

“Bahkan unjuk rasa yang terakhir itu ibaratnya tidak ada satu ranting pun patah. Artinya, saya memberikan apresiasi sebuah demo yang sebesar itu. Selain itu, paling tidak bisa mengantarkan Jakarta mengesahkan APBD tepat waktu. Itu bagian yang membuat saya merasa puas,” kata Soni. Soni yang sebelumnya pernah menjabat sebagai plt di Sulawesi Utara membandingkan perbedaan yang mencolok di antara dua daerah itu. Khususnya, kalangan media atau wartawan. Menurut Soni, sensitivitas dan kreativitas media di Jakarta lebih ganas ketimbang di Sulawesi Utara.

“Ada banyak cara media mengekspresikan dalam bentuk berita. Di Jakarta sangat kreatif dan ganas. Tapi saya yakin memang itu tugasnya untuk memberitakan dan saya tidak merespons negatif,” imbuhnya. Ia mengaku selama menjabat sebagai plt, 45% kehidupannya banyak bersentuhan dengan media. Ia berpesan kepada SKPD untuk tidak menjauhi media. “Karena dengan media kita bisa berjuang bersama-sama. Kita bisa tangani Jakarta bersama-sama. Jika meninggalkan media, bisa berbahaya. Maka, saya berpesan untuk SKPD, jangan menjauhi media,” pintanya. (Yanurisa Ananta/J-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya