Pupuk Bom Temuan Polisi Antiteror

(Gana Buana/J-2)
03/2/2017 04:10
Pupuk Bom Temuan Polisi Antiteror
(ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

KARENA pernah bergabung di tim Anti-Teror Bom (ATB), Sundoro terinspirasi membuat pupuk kimiawi dengan campuran bahan peledak. Usaha sampingan anggota Kepolisian Sektor Jati Asih, Bekasi itu, berbuah manis. Pria berpangkat ajun inspektur satu itu bergabung dengan Tim ATB pada 2000. Selama 10 tahun bertugas, dia mendapat kesempatan untuk kembali ke komando dan meminta ditempatkan di Polsek Jati Asih. Di pos yang baru, Sundoro mencoba mengasah kreativitasnya.

Di sela rutinitas sebagai polisi, berbekal pengalaman dan pengetahuan, ia mulai menggarap budi daya sayur-mayur dengan memanfaatkan lahan terbatas di teras rumahnya. Hasil budi dayanya cukup lumayan, bukan hanya dimakan, tapi dapat menambah pundi-pundi perekonomian keluarga. Ayah dua putra itu belum puas dengan kualitas sayuran yang dihasilkan. "Saya berpikir, kalau pupuk yang ditabur lebih bagus tentu harga jual sayurnya juga akan lebih mahal," tutur Sundoro, Rabu (1/2).

Pengetahuan yang ia dapat dari ATB kemudian diterapkan untuk membuat pupuk dari bahan baku bom dengan campuran organik rumah tangga. Bahan bakunya antara lain, sulfur, asam nitrat, HNO3, asam fosfat TNT, ZINC serta urea. Dalam pembuatannya, Sundoro meramu bahan-bahan kimia tersebut dengan kunyit, bawang putih, dan dadung. Bahan-bahan itu lalu digiling dalam mikser dengan tambahan air. Jadilah pupuk organik cair yang disiramkan ke sayuran dan buah. "Pembuatannya cuma 4 hingga 5 jam," ungkapnya.

Meski menggunakan bahan baku pembuatan bom, Sundoro menjamin pupuk yang dihasilkannya tidak akan meledak saat disiramkan ke tanaman karena ia tidak memakai detonator pemantik ledakan dan lagi pula sudah dilarutkan dalam air. Selain aman, racikan kimia yang dinamakan pupuk cair 'Mutiara Anugrah Tani' itu terbilang hemat. Satu botol pupuk cair berisikan 1 liter bisa dipakai buat tanaman di areal 2.000 meter2. Artinya lebih hemat 50% ketimbang pupuk murni. Hasil panen terbilang lebih cepat khususnya untuk jenis tanaman padi dan cabai.

Bulirnya juga lebih besar. Pupuk Mutiara Anugrah Tani produk Sundoro belum dikomersialkan, tapi petani sudah sering membelinya dengan harga Rp80 ribu per botol berisi 1 liter. Beberapa petani luar daerah juga sudah memesan karena mendapat rekomendasi dari mulut ke mulut. Yang rutin membeli antara lain petani Kabupaten Bekasi, Jawa Tengah, dan Sumatra. Namun, Sundoro menolak mengungkapkan penghasilan yang dia peroleh dari pembuatan pupuk berbahan baku peledak itu. Saat ini ia rindu dapat bergabung dengan komunitas petani. "Ke depan, saya ingin mengumpulkan para petani agar jangan ragu-ragu dalam bertani," imbuhnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya