Jepang Belum Jabarkan Detil Biaya Redesain Rolling Stock

Yanurisa Ananta
30/1/2017 18:19
Jepang Belum Jabarkan Detil Biaya Redesain Rolling Stock
(MI/Ramdani)

TERPILIHNYA desain muka depan rolling stock MRT (Mass Rapid Transportation) yang berwarna biru dengan lengkungan yang lebih halus berimplikasi pada penambahan beban biaya.

Dua perusahaan kontraktor pengadaan rolling stock Sumitomo Corporation dan pabrik pembuat rolling stock, Nippon Sharyo, mengajukan penambahan biaya sebesar Rp17,8 miliar namun PT Mass Rapid Transportation dan Pemprov DKI menyatakan menolak angka tambahan biaya tersebut.

Direktur Keuangan dan Administrasi PT MRT Tuhiyat mengatakan rincian dasar penambahan beban biaya tersebut belum dijelaskan oleh Sumitomo dan Nippon Sharyo. Setidaknya membutuhkan waktu dua minggu untuk menunggu penjelasan dari Jepang terkait rincian desain rolling stock itu.

"Kita (PT MRT) tidak tahu. Mereka (Nippon dan Sumitomo) langsung mengatakan saja dengan tidak detail. Item per item harus dijelaskan. Ini harus diverifikasi lagi. Kita belum mengajukan dan belum ada ajuan dari mereka," tandas Tuhiyat kepada Media Indonesia, Senin (30/1).

Menurut Tuhiyat, angka beban tambahan biaya dari kontraktor masih bisa berubah. Sebab, tidak ada struktur tulangan yang diubah. Tuhiyat mengatakan pihaknya akan meminta penjelasan dalam waktu dekat.

Di saat belum jelas berapa jumlah beban biaya tambahan yang harus dikeluarkan PT MRT dan Pemprov DKI, PT MRT harus sudah mengajukan desain akhir muka rolling stock yang dipilih. Hal ini dilakukan agar produksi sudah bisa berlangsung di awal Februari.

"Kita harus duduk bersama lagi negosiasi dulu dengan perusahaan pengada supaya jelas. Setelah itu kita laporkan ke Pemprov DKI," imbuh Tuhiyat.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Pemprov DKI Jakarta Saefullah mengaku belum menerima laporan PT MRT Jakarta terkait penentuan desain muka depan rolling stock MRT dan beban biaya tambahan yang ditentukan. Saefullah menekankan, apapun desain yang dipilih jangan sampai Pemprov DKI harus mengeluarkan biaya lagi.

"Belum ada laporan yang masuk ke Pemprov DKI. Kita berharap beban biaya tidak bertambah karena perubahan bentuk rolling stock," kata Saefullah.

Sebelumnya, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim menyebut pihaknya sepakat memilih desain rolling stock berwarna biru dengan lengkungan lebih halus ketimbang desain lama yang berwarna hijau dengan lengkungan lebih kaku.

Terpilihnya desain rolling stock yang dinilai tampak lebih aerodinamis itu berimplikasi pada penambahan beban biaya sebesar Rp17,8 miliar. Angka tersebut dinilai PT MRT terlalu mahal. Untuk itu, sambil berjalannya proses produksi kereta MRT yang dimulai 1 Februari 2017, pihaknya terus bernegosiasi dengan perusahaan produsen Nippon Sharyo dan Sumitomo untuk menurunkan angka beban biaya tambahan tersebut.

"Kita mau ada penjelasan detail mengapa angkanya sebesar itu. Kami akan tekan supaya tidak sebesar itu dan terus lakukan negosiasi," tandas silvia.

Menanggapi hal itu, Saefullah berujar negosiasi yang ditawarkan Pemprov adalah tanpa penambahan beban biaya. Ia mengatakan pihaknya enggan membayar biaya sebesar itu. "Kita enggak mau. Siapa yang mau tekan angka itu? Dari kita negosiasinya tidak mau bertambah," kata Saefullah.

Menurut Saefullah, desain rolling stock yang berwarna biru sudah paling optimal untuk desain rolling stock MRT Jakarta. Pasalnya, secara teknis sudah terukur tidak akan menggesek badan stasiun.

Desain rolling stock yang serupa dengan kepala pesawat dengan moncong lebih maju dikatakan Saefullah tidak cocok dengan MRT. Desain yang sempat diajukan seperti itu hanya cocok untuk kereta cepat di Jepang atau Tiongkok.

"Kereta di Jepang dan Tiongkok memang lebih tampak aerodinamis. Rolling stock mirip kepala pesawat. Itu tujuannya untuk lebih mudah membelah udara. Tapi desain berwarna biru itu sudah paling maksimal," pungkas Saefullah.(OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya