Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGAI wirausaha kecil yang mempunyai tiga anak, Yuyun Sulistia dan suami terbiasa dengan beratnya biaya hidup. Bukan berarti mereka tidak bersyukur akan limpahan buah hati, tetapi mereka menyadari pepatah 'banyak anak, banyak rezeki' sudah tidak lagi relevan di zaman serbamahal ini. Meski begitu, mereka ingin memastikan masa depan anak terjamin.
Pasangan itu pun memutuskan tidak menambah keturunan. Tidak tanggung-tanggung, mereka mantap memilih metode operasi. "Orang-orang sih bilangnya ini metode steril, jadi agar kita enggak lagi bisa dibuahi," ungkap Yuyun kepada Media Indonesia, Selasa (20/12), di RSUD Kota Bekasi, Jawa Barat. Metode operasi pria (MOP) dan metode operasi wanita (MOW) memang bagian dari metode keluarga berencana (KB) modern.
Selain operasi, ada pula penggunaan kondom, pil, suntikan, intrauterine device (spiral), dan spermisida. Seperti terlihat dalam data yang dilansir Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan, telah lama para perempuan Indonesia akrab dengan metode KB modern. Pada 2013 sebesar 53% perempuan usia 15-49 tahun dengan status kawin di Indonesia memang memilih metode KB modern.
Hanya sekitar 0,4% yang memilih metode KB tradisional, yakni sistem kalender atau pantangan. Yuyun menjelaskan keputusan menjalani operasi diambil setelah setahun ia mempertimbangkan berbagai opsi pembatasan keturunan. Semula, sang suami yang berniat menjalani metode permanen agar mereka tidak bisa menambah anak. Namun, setelah mereka berkonsultasi dengan dokter kandungan, keputusan itu berubah.
Lebih murah
Untuk menjalani MOW, perempuan berusia 45 tahun itu mengaku tidak mengeluarkan biaya besar. Ia menggunakan jaminan BPJS Kesehatan dan hanya membayar Rp150 ribu untuk biaya tambahan. Biaya itu juga jauh lebih murah ketimbang biaya alat KB yang harus ia keluarkan per tiga bulan. "Sekali suntik tiga bulan sudah habis berapa, ini kan hanya sekali, tidak ada risiko apa pun karena tidak memasukkan obat kimia ke tubuh kita," jelas Yuyun.
Setelah menjalani MOW, Yuyun pun lega karena terbebas dari kekhawatiran kebobolan memiliki anak. MOW juga jadi pilihan bagi Astuti. Alasannya pun tidak berbeda, yakni keterbatasan ekonomi. "Ini penting banget. Jadi, anak tidak keteteran, biaya hidup dan pendidikan anak makin tinggi, akan semakin banyak," ungkap perempuan 40 tahun itu. Kedua ibu itu tidak merasa risau sedikit berkorban.
Bagi mereka yang lebih penting ialah dapat mengurus buah hati dengan sepenuhnya, termasuk menjamin pendidikan mereka hingga dewasa. Sementara itu, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Bekasi, Erwin Effendi, menyampaikan saat ini total jumlah penduduk Kota Bekasi ada sekitar 2,1 jiwa. Pertambahan penduduk di Kota Bekasi tiap tahun diproyeksikan ada sekitar 5%.
Karena itu, pembatasan keturunan di Kota Bekasi ialah salah satu solusi agar tidak menambah masalah perkotaan. "Itu salah satu solusi, kalau banyak anak justru malah menambah masalah perkotaan kan sayang, lebih baik diatur dan dibatasi," tukas dia. (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved